TURTUKOJI ’08 : Napak Tilas 12 Tahun Cozy Street Corner

“What A Day!”

Bagian Pertama

Seperti yang sudah-sudah, saya harus membuat tulisan tentang perjalanan saya mengikuti rangkaian acara konser Cozy Street Corner. Maaf, bukan konser, tapi Paparan Musikal :)

Ini pun bukan sebuah paksaan, walau tadi saya mengatakan ‘harus’. Tidak ada tenggat waktu atau nilai yang dikejar dalam proses penulisan ini. Intinya tulisan ini wajib dan harus saya buat untuk kepuasan diri saya sendiri, sebagai memori dari perjalanan saya, dan semoga bisa menjadi bacaan yang bermanfaat untuk teman-teman, baik yang bersama-sama dengan saya menikmati perjalanan ini, maupun yang tidak, tapi terutama tulisan ini saya buat untuk dua sahabat saya, yang kali ini tidak bisa hadir dalam tampilan Cozy Street Corner : Karina Adistiana dan Anindita Gabriella. Nyi, Gab, semoga ini bisa sedikit menghibur kerinduan kalian..

Mengapa berjudul Turtukoji? Entah sebelumnya sudah pernah saya utarakan atau belum, tapi intinya turtukoji itu meminjam sedikit ‘sound’ dari kurtukoji, choir yang mendampingi Cozy Street Corner dalam beberapa Paparan Musikalnya. Kurtukoji sendiri merupakan pelafalan mudah dari ‘choir to cozy’ (please correct me, if I wrong..). Maka Turtukoji adalah pelafalan mudah dari ‘tour to cozy’, istilah yang saya gunakan untuk tiap catatan perjalanan saya untuk mengikuti Paparan Musikal.

Ada yang berbeda dari Paparan Musikal Cozy Street Corner kali ini. Penampilan kemaren diberi judul Napak Tilas 12 Tahun Cozy Street Corner. Ya, mereka tak terasa telah berusia 12 tahun, dan bagi saya, sebagai sebuah band yang bergerak di jalurnya sendiri (independent), 12 tahun dengan kurang lebih 3 album resmi (dan sekian banyak lagu lain yang unreleassed atau not yet recorded) adalah sebuah prestasi dan kebanggaan sendiri yang memang pantas dan patut dibanggakan. Paparan kali ini lebih merupakan sebuah sarana pemuasan akan kerinduan berkumpul bersama teman-teman lama (dan juga teman-teman baru, tentunya), bermain musik dengan para teman-teman yang juga pernah tampil bersama ataupun yang baru pertama kali tampil, dan tentunya, paparan ini sebagai sebuah perayaan kemandirian, kesederhanaan, dan kebahagian CSC dalam bermusik, menurut saya.

Paparan kali ini diadakan kembali di Kopi Selasar, setelah sebelumnya pada tahun 2005, tepatnya tanggal 28 Mei, mereka mengadakan Paparan Musikal Cozy Street Corner berjudul ‘Detak Nadi Musik Bumi’ di tempat yang sama. Saya rasa, detail tentang bagaimana jalannya acara akan saya sampaikan belakangan. Ada baiknya saya bercerita tentang keberangkatan di hari pertama terlebih dahulu. Karena, banyak hal menarik yang terjadi, setiap harinya sebenarnya, dan saya ingin menceritakannya..

Mari disimak.. semoga berkenan..

Setelah beberapa hari sempat bingung akan berangkat ke Bandung atau tidak, hingga akhirnya memutuskan untuk pergi, tetap saja saya bingung karena tidak tahu akan berangkat dengan siapa, hari apa, dan akan tinggal di mana selama di Bandung. Akhirnya kabar gembira datang dari Mas Ibut, yang mengatakan bahwa akan berangkat hari Kamis sore dari Jakarta menggunakan travel, bersama dengan Mas Adoy dan Kk Bonita. Di Bandung nanti akan menginap bersama, namun saya sendiri tak tahu di mana. Sehari sebelum keberangkatan, saya bertemu dengan mas Ibut di blitzmegaplex usai tampilan Cozy Street Corner dalam acara press.conf. The Body Shop ‘think act chage’. Malam itu juga saya bertemu dengan Anyi dan Gabi, yang pada akhirnya benar-benar tidak bisa ikut bergabung dalam perjalanan kali ini. Mas Ibut dan Mas Adoy mengatakan bahwa Kamis akan berangkat menggunakan citi-trans dari Fatmawati. Setelah menjelaskan dengan singkat ‘how to get to the citi-trans’ pool @ fatmawati’, mas Adoy sempat berceletuk, “Sya, kalo mau bawa pacar juga boleh loh..”. Saya hanya tersenyum (terpaksa) dan dengan agak miris menjawab, “Hehe.. kan pacarnya ga ada mas..”. Trus mas Adoy bilang lagi, “Yah kan masih ada hari ini sampe besok. Gampanglah, malam ini sampe besok, lo cari aja yang bisa jadi pacar.. trus kalo dapat, ajakin aja..”. Bingung harus menjawab apa, ditambah lagi di sebelah mas Adoy, duduk si Mas Rhesa Aditya, jadinya makin ga tahu harus bilang apa, saya hanya balik bertanya, “kalo yang mau dijadiin pacar adanya di Bandung gimana?”. Akhirnya pembicaraan itu terhenti di situ, tanpa komentar lanjutan apapun. Dan saya sendiri merasa begitu bodoh mengungkapkan hal tadi. Hhhh… Ngomong-ngomong, tulisan ini sepertinya akan saya bagi menjadi 3 atau 4 bagian. Karena kalau dibuat dalam 1 bagian saja, terlalu panjang untuk sebuah tulisan. Untuk itu, ini akan menjadi bagian yang pertama.

Kamis, 20 November 2008

(Jatibening – Blok M – Fatmawati – Dipatiukur – Sky FM – Dago – Bupati 91)

Akhirnya perjalanannya dimulai. Saya berangkat dari rumah jam 3 kurang, naik ojek ke tempat naik bis. Cuaca sore itu agak mendung. Saya menunggu bus ke arah Blok M. Akhirnya saya naik AC 05. Jalanan agak tersendat di tol Cawang hingga Semanggi. Tiba di Blok M sudah jam 4 kurang. Saya mulai sedikit panik. Mencari metromini jurusan Pd. Labu atau yang bernomer 610. Tapi itulah saya, yang mudah panik dan linglung di tempat keramaian. Saya ingin memastikan kembali bahwa saya harus mencari 610. Saya bertanya pada bapak penjual rujak, “Pak, kalau mau ke arah Lebak Bulus, naiknya 610 ya?”. Harapannya adalah si bapak akan mengiyakan jawaban saya. Tapi ternyata si bapak malah bilang, “Wah, bukan neng, 610 mah ga ke Lb. Bulus..”. Saya terdiam. Bingung. Ada yang salah. Dan saya merasa begitu bodohnya. Ya iyalah si bapak tukang rujak ga akan bilang “iya”, jelas-jelas saya salah bertanya. Yang ada di kepala itu Pd.Labu, tapi yang keluar dari mulut malah Lebak Bulus. Sering ga sinkron sepertinya antara otak mulut..

Malu-malu saya buru-buru lari ke arah 610 yang isinya masih kosong melompong. Tanpa pikir panjang saya langsung naik. si 610 pun ga langsung jalan. Ngetem di sana sini. Si kenek dan supirnya pun berkomunikasi dengan bahasa yang mereka pikir ga akan dimengerti orang lain, yang padahal adalah bahasa Batak. Saya tidak berhenti melirik ke jam tangan, berharap pukul 5 sore saya bisa tiba di citi-trans fatmawati. Masalahnya adalah, saya sebelumnya tidak pernah menginjakkan kaki di daerah itu (sendirian). Kalau pun pernah dengan teman-teman, itu sudah lama sekali. Tidak ada bayangan sama sekali di mana letak perempatan Farmawati dan pool citi-trans yang katanya ada di sebelah kiri.. Satu-satunya harapan saya adalah si kenek yang akan mengingatkan di mana posisi perempatan Fatmawati. Tapi mungkin karena dia pun sudah lupa karena keasikan berteriak-teriak mencari penumpang, saya harus lebih jeli dan awas. Beberapa lampu merah dilewati, tidak ada tanda-tanda adanya citi-trans. Saya melihat jam tangan, jam 5 lewat. Semakin panik. Ditambah lagi hujan mulai turun, lengkap sudah, saya jadi orang bingung. Untungnya di sebuah perempatan besar si 610 melambat dan saya melihat citi-trans tersebut dan saya buru-buru turun. Ternyata mas Ibut sudah menunggu di sana. Mas Adoy datang menyusul. Kemudian, kk Boni datang sesaat sebelum akhirnya kami mulai memasukkan barang-barang kami ke dalam mobil. Sore itu kami berangkat tepat waktu, 17.15. Pak Supir (yang nyetirnya lumayan ngebuuuuuuuuut), mas Ibut, mas Adoy, kk Boni, saya, dan 1 lelaki. Eits, itu bukan pacar saya, hanya penumpang lain dengan tujuan dan kendaraan yang sama dengan saya. Hehehe. Jalanan sempat terguyur hujan. Kami sempat mencicipi beberapa cemilan yang saya bawa kemudian tertidur, terbangun, tertidur, dan terbangun kembali.

Pukul 19.30, kami tiba di gerbang tol Pasteur. Kami mestinya harus bersegera menuju Sky FM, tapi perut terlalu lapar, sehingga kami pun mampir ke Nasi Ampera di sebelah pool citi-trans. Nasi, ayam, dan lalapan jadi santapan malam itu. Setelah itu kami meluncur menuju Sky FM menggunakan taksi. Tiba di sana, kami disambut Om Barata. Barang-barang pun segera kami masukkan ke dalam mobil Bhotax. Kami lalu menuju teras yang lebih berupa ruang tunggu dan tempat duduk-duduk di depan Sky. Om Kris, kk Sylvie, Bhotax, mas Do dan teman-teman yang lain sudah menunggu di sana. Kami pun bersalam-salaman. Ada Kang Odon, Teh Ella dan si Lentik, Kang Eman, Kang Ipang, Kang Moeloes, Kewoy, Widi, trus siapa lagi, saya lupa. Setelah itu Metay dan istri pun dateng. Saya sempat bingung ga tau mau ngomong apa dengan siapa. Kang Odon memulai pembicaraan malam itu dengan progres report persiapan paparan. Akhirnya tiba waktunya CSC masuk ke dalam untuk diinterview. Tinggallah saya sendiri di bawah dengan teman-teman baru ini. Saya pun mulai smsan dan telponan dengan Gabi dan Didudh. Seperti biasa, saving face. Tapi kemudian saya pun mulai bisa merasa nyaman dengan situasi itu. Kami melihat si Lentik anaknya kang Odon itu menulis-nulis. Umurnya 4 tahun (kalo ga salah). Pinter, euy nulisnya. Dan hebat, sampai malam-malam masih bisa tetap terjaga dan tetap baik-baik saja, tidak rewel. Akhirnya jam 11an selesai. Kami masih sempat ngobrol sebentar lalu kemudian kami pun beranjak. Kk Sylvie harus langsung pulang. Mas Adoy, kk Bonita, Om Barata, Bhotax, dan saya naik ke mobil Bhotax. Sementara mas Do dibonceng sama Widi. Mas Ibut dan Om Kris naik taksi kalo ga salah.

Malam itu jalanan sudah benar-benar lengang, tapi tidak membuat perjalanan kami jadi lancar, karena si Om Barata rada-rada ga inget jalanannya. Kami ceritanya mau makan dulu, makan lagi. Sebelumnya kami sempat mampir di circle K, membeli beberapa keperluan dan kebutuhan. Tibalah kami di pinggiran jalan di Dago, makan di tenda masakan Sunda. Saya masih kenyang. Mas Adoy, Om Barata, Bhotax, dan Kk Boni yang makan. Oia, kk Boni membungkus ayam dan semur jengkol. Nyummm, sepertinya lezat tuh. Hehe.. Lalu kami pun menanjak naik ke Dago Pakar. Melewati palang petunjuk “Sierra”. Hmm, rupanya Sierra ini ada di sini. Nama yang tidak asing bagi saya. Sebuah nama yang muncul dari sebuah foto yang kemudian menampar saya dengan kenyataan cerita di balik foto itu. Ah, tapi itu tidak akan merusak rencana senang-senang saya di Bandung. Kami pun melewati jalan di depan Selasar Sunaryo. Tak berapa jauh dari situ, tibalah kami di depan pagar dengan tembok bertuliskan Bupati 91. Pintu pagar dibuka dan mobilpun masuk. Kami, tepatnya, saya, kk Boni, dan mas Adoy beberapa saat terdiam mengagumi betapa kerennya tempat penginapan kami. Betapa tidak, guest house Bupati 91 inn ini teralalu keren. Didesain sebagai termpat berkumpul dengan keluarga dan teman-teman dengan 3 kamar, dapur di teras, serta semacam selasar di depan kamar yang diterangi lampu dan dilantainya tergelerak congklak dan arumba. Kami berkali-kali berdecak kagum. Kami pun meletakkan barang-barang bawaan kami dan segera menikmati pemandangan di luar. Dengan pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan khas dataran tinggi seperti cemara lilin serta udara dingin yang sama sekali tidak menusuk itu, kami benar-benar lupa akan rasa kantuk yang sudah sempat datang tadi.

Kami meletakkan cemilan-cemilan, mengontak air panas di dispenser dan mulai duduk-duduk dan bercerita. Sebelumnya Bhotax mulai asik dengan si Arumba, kk Boni mulai siap-siap dengan congklaknya, dan mas Adoy serta om Barata mulai asik dengan laptopnya. Berhubung ga ada kerjaan, saya mulai foto-foto aja. Air pun panas dan kami mulai meminum yang hangat-hangat. Kk Boni pun tak sabar menantang Bhotax bermain congklak, dan permainan pun dimulai. Sayang bahwa si kerang-kerangannya jumlahnya tak lagi lengkap. Tapi itu tak mengurungkan niat mereka bermain. Dan pertandingan (yang katanya) kompetitif itu pun dimulai. Awalnya saya bingung bagaimana cara memainkannya. Tapi setelah berkali-kali melihat Bhotax kalah (hehehe.. belajar dari kekalahan orang, ceritanya..) akhirnya saya mengerti juga. Saya pun sebentar menggantikan kk Boni untuk melawan Bhotax. Bosan dengan kekalahan (hahahahhaa) Bhotax pun menyudahi permainan. Kami beranjak ke meja tempat dari tadi Mas Adoy dan Om Barata berkutat dengan laptopnya.

Sesi ngobrol-ngobrol santai di meja pun di mulai. Kali ini Bhotax yang bercerita. Hehe, ingin tau isi ceritanya? Janganlah.. Itu konsumsi pribadi kami yang ada di meja itu saja. Intinya adalah mirip dengan lagu Melata Hati. Yang saya tangkap bahwa kita harus tau kapan kita akan berhenti dari semua penyesalan, rasa bersalah, tidak rela, dan mesti tau kapan akan berhenti bersedih. Maka semuanya akan baik-baik kembali J Perbincangan kami malam itu masih panjang, mas Adoy pun pamit tidur duluan karena, kalo ga salah sudah 36 jam belum tidur, jadinya benar-benar harus istirahat. Sekitar jam 1 pagi mungkin, mas Ibut, om Kris, dan mas Do tiba. Karena pagar sudah dikunci, akhirnya mereka pun terpaksa memanjat. Hehe.. Setelah bercerita-cerita, kembali membahas perihal interview di radio Sky FM tadi. Lalu bercerita tentang hal-hal lain. Saya pun sudah mulai tidak kuat menahan kantuk. Mulai menyiapkan tempat untuk tidur hingga pada akhirnya si Bhotax yang baik hati itu (ehemm..) memberikan tempat tidur berwarna hijau scottlite itu untuk saya pakai. Waaaaaaaaaaaaaa.. tlimakaci banyak yaaaaa.. Dan saya tertidur pulas setelah berdoa, berterima kasih untuk hari ini, dan berharap esok atau tepatnya beberapa jam lagi akan terbangun dan kembali melanjutkan kegiatan di hari yang baik, hingga pada puncak acara tanggal 22 November nanti..


Jumat, 21 November 2008

(Bupati 91 – Dago – Bupati 91 – Kopi Selasar – AutoRadio – Jl. Ermawar no.16 – Jl.Pasir Kaliki – Bupati 91)

Selamat pagi!!!!!!!! Sebenarnya kami bangun tidak di pagi-pagi buta, bahkan mungkin sudah menjelang siang. Tapi nggak lah. Saya terbangun jam 8.30 pagi. Mencuci muka dan menyikat gigi. Menyeduh segelas EnergenCereal. Lalu duduk menikmati udara sejuk, ditemani suara-suara kodok, jangkrik, dan serangga-serangga berbunyi lainnya.. Sambil membereskan meja yang agak berantakan sisa semalam. Satu persatu pun mulai bangkit dari tidur. Saling menyapa ‘selamat pagi’. Melayani diri masing-masing dengan secangkir kopi panas, beberapa lembar roti beroleskan mentega atau selai coklat, dan cemilan-cemilan lainnya.

Pagi ini diisi dengan kegiatan menyusun songlist, kebutuhan untuk rundown acara dan repertoire. Mas Adoy, mas Do, dan Om Kris meyusun lagu mana untuk di bagian mana. Selain itu, hari ini juga rencananya akan sedikit melatih beberapa lagu-lagu. Mas Adoy mengambil gitar, mas Do dan om Kris juga. Bhotax mengambil jembe (eh, jembe bukan sih yang itu?). Mulailah bernyanyi. Dan yang membuat saya menikmati pagi itu adalah suasana santai dan hangat yang begitu sederhana. Sebenarnya seperti apa rasanya sulit saya ungkapkan. Jujurly (meminjam gaya bicaranya Om Kris), saya sangat mengagumi Cozy Street Corner sebagai sebuah band. Cara saya menghargai usaha mereka dalam bermusik, bagaimana saya mengapresiasi musik mereka, sama dengan cara saya mengapresiasi musik dari band lain seperti Radiohead, Coldplay, Dave Matthews Band, dan Sigur Ros. Maksudnya, bagi saya, mereka itu.. apa ya? Jauh sekali lah. Sangat spesial lah tempatnya dalam diri saya, dan saat ini saya sedang bersama-sama dengan mereka. Menikmati tiap petikan gitar, tiap lagu, kata-kata yang terlontar begitu saja, atau bahkan sesekali mendegar mereka tertawa keras begitu lepas, atau bahkan mendengar salah satunya mengeluarkan gas, maaf, kentut. Hahahaha.. bagi saya semuanya itu seperti, aneh. Mimpi? Bukan, ini kenyataan. Dan saya suka dengan kenyataan ini. Mereka ternyata manusia biasa kok. Yang terberkati lewat kemampuan bermusik mereka, tapi mereka tetap manusia biasa yang sama-sama makan nasi, sama-sama bisa ngorok kalo tidur, membunyikan sendawa keras setelah kenyang makan, atau bahkan ya tadi itu, tanpa malu-malu, kentut. I love you, guys lah! Haha.. Mereka pun mulai berlatih sebuah lagu, yang malam sebelumnya pernah saya tanyakan ke mas Adoy, mengapa tidak pernah dibawakan secara live, dan dijawab dengan singkat, “Besok akan dibawain kok..”. Ya, lagu itu, We Are The Ones. Selain itu juga menyanyikan lagu T’usah Gundah. Tentunya pada saat nanti tidak akan ada iringan chello dari Jambrong, tapi saya yakin aransemen live-nya akan sama enaknya dengan versi album. Siang semakin cepat tiba. Hari ini renacananya akan ada interview di AutoRadio jam 4-5 sore. Setelah itu akan menuju tempat latihan Kerocong Merah Putih untuk berlatih di sana, bersama dengan anak-anak Kurtukoji. Karena kami mulai lapar, maka Om Barata pun mengajak untuk membeli makan siang. Mas Ibut, saya, dan Om Barata meluncur ke bawah (naik sepatu roda kali ye..), mencari makan. Melihat bahwa bensin di mobil Bhotax nyaris kosong, kami pun memutuskan untuk turun sampai pom bensin Dago. Lalu om Barata mencari si rumah makan Pagi Sore yang ternyata sudah berubah bentuk menjadi rumah makan Pagi Sore yang berbeda. Kami pun mencari tempat makan lagi. Sebenarnya saya agak lupa itu rumah makan apa. Entah berjudul ‘warung tegal’, ‘warung nasi’, atau ‘nasi liwet’, yang jelas kami meminta dibungkuskan 8 nasi dengan lauk berbeda-beda. Urusan pilih memilih lauk saya serahkan pada mas Ibut dan om Barata. Mereka lebih tau apa kesukaan dari Mas Do, mas Adoy, Om Kris, dan Bhotax. Setelah itu, kami kembali ke Bupati 91. Ternyata benar bahwa mobil Honda Jazz hitam yang sempat berpapasan dengan kami pada saat turun tadi adalah mobil kk Sylvie. Kami pun mulai menyantap makan siang kami. Menjelang jam 3 sore, kk Sylvie mengajakan saya untuk ikut ke Kopi Selasar, sekalian setelah itu langsung menuju Autoradio di Cihampelas. Saya pun bergegas besiap, lalu mas Ibut, om Kris, kk Sylvie, dan saya meluncur (lagi, seperti pake sepatu roda..) menuju Kopi Selasar. Sejenak saya terdiam memandang sebuah tulisan Kopi Selasar pada tembok batu, mengingat sebuah foto di mana seseorang berpose menggunakan topi dan jaketnya, sambil menggendong tas, di depan tulisan itu.. Hhh..

Sore itu pengunjung sepi. Kami lalu melihat keadaan si ampitheater.. yang rasanya seperti mengecil. Dulu, tahun 2005, pertama kalinya saya ke Kopi Selasar, tempat itu terlihat besar. Tapi kali ini terlihat jadi mengecil. Saya lalu mengatakan pada om Kris, “dulu tuh rasanya gede gitu ya amphitheaternya, tapi kok sekarang mengecil?”. Om Kris bilang, “mungkin karena dah liat yang di Saung Udjo, Juni kemaren kali ya..”. Saya menambahkan, “ya, dan gw dah liat yang jauh lebih besar lagi, amphitheater di Garuda Wisnu Kencana, Bali..”. Mungkin juga itu penyebabnya. Kami lalu duduk di salah satu meja, bersalaman dengan Pak Iyus, pihak dari Kopi Selasar yang mengurus kebutuhan-kebutuhan kami yang berhubungan dengan penggunaan Kopi Selasar tersebut. Pak Iyus sempat bertanya, apakah kami sudah menyiapkan antisipasi bila hujan turun pada saat paparan berlangsung. Apakah tenda sudah dipersiapkan dan bla bla bla. Kk Sylvie menjawab singkat, “Ya.. mohon doanya aja pak Iyus, supaya cuacanya cerah.. Kita energinya mesti positif..”. Dan saya mengaminkan itu dalam hati. Semoga. Setelah itu pak Iyus menunjukkan jalur loading untuk sound system untuk besok pagi. Kami pun berpamitan dan segera menuju tujuan kami berikutnya. AutoRadio.

Saya baru tersadar, bahwa AutoRadio itu adalah tempat yang sama dengan travel Transporter di Cihampelas, travel yang saya, Ratih, dan Didudh gunakan pada saat ke Bandung, 17 agustusan 2007 lalu. AutoRadionya sendiri ada di lantai atas. Kami naik, sambil menunggu Bhotax, om Barata, Kk Bonita, mas Adoy dan mas Do sampai. Setelah itu, mereka masuk ke ruang siaran, sementara kk Sylvie dan saya duduk-duduk di ruang tunggu ber-AC dan berasap (hehehe).. Sambil menyaksikan pertandingan sepak bola PSSI melawan Timnas Myanmar. Sambil bercerita-cerita dengan beberapa orang di sana. Kopi latte pesanan kami pun tiba dengan es teh manis begelas-gelas untuk orang-orang yang sedang diinterview di dalam. Pada saat break, kang Wawan si penyiar keluar. Sempat bercerita-cerita. Ternyata dulu, waktu acara sweetseventeen-annya kk Sylvie, yang menjadi MC adalah si Kang Wawan dan Kang Jo. Awalnya saya tidak ngeh, tapi kemudian saya mengingat betapa familiarnya muka si Kang Wawan ini. Ternyata itu teh kang Wawan yang di Project P dulu. Astaga! Project P dengan Nasib Anak Kost parodian mereka itu.. Senang rasanya bisa kenal sekedap dengan si Kang Wawan.. Pertandingan bola pun menjadi hiburan bagi kami, walau pada akhirnya kami tidak merasa terhibur dengan hasil akhir Indonesia kalah 2-1 dari Myanmar. Setelah menghabiskan kopi dan es teh manis masing-masing, kami pun berpamitan dan kembali meluncur, mencari jalan Ermawar no.16, Tongkeng di dekat Stadion Siliwangi, dekat-dekat jalan Riau. Setelah kontak sana sini, akhirnya kk Sylvie dapat petunjuk yang akurat mengenai posisi jl.Ermawar no. 16 itu. Oia, jl. Ermawar no.16 itu adalah tempat berlatihnya Keroncong Merah Putih.

Sebelum menuju ke sana, kami menuju Dipatiukur untuk menjemput Imada dari Citi-trans. Ternyata dia bertemu dengan si om Tata di sana. Tapi si Om Tata tidak ikut dengan kami. Akhirnya kami menuju tempat latihan. Sore itu jalanan cukup macet. Teringat langsung dengan hari Jumat sore hingga malam di sepanjang jalan di Jakarta hingga Bekasi yang super macet.. Tapi ini beda. Ini di Bandung, dan walau macet, saya menikmatinya. Kami sempat melewati taman Lalu Lintas. Kk Sylvie sempat bercerita, bahwa dulu waktu kecil, pernah main orgen di taman ini, membawakan lagu Dunia Fantasi. Eh, itu kk Sylvie atau siapa ya yang main? Pokoknya adalah yang main lagu Dufan pake orgen di Taman Lalu Lintas itu.

Sekitar pukul 7 malam, kami tiba di depan sebuah rumah di Jl. Ermawar no. 16. Sebuah rumah dengan bagian tambahan di sampingnya yang digunakan sebagai tempat berlatih oleh Bu Retno dan pasukannya. Kami pun bersalam-salaman. Rupanya si Om Kris benar-benar lapar. Mencari tukang nasi goreng. Tapi tak ada.Yang ada malah tukang bakso. Waktu melihat si tukang bakso itu, sebuah motor datang ke arah kami. Ternyata dia adalah si Kang Yoga PHB. Kami pun bersalam-salaman. Tukang siomay lewat dan akhirnya Om Kris memesan. Lalu tukang mie bakso ceker juga lewat. Dan kk Sylvie memesan juga. Imada dan mas Ibut memesan siomay. Mitha yang akan memberi kostum untuk kk Boni pun datang dan berkumpullah kami di luar. Tak lama, rombongan mobil satu lagi tiba.

Bersalam-salaman dengan Bu Retno, Kang Yoga, Mitha. Lalu mulai duduk-duduk dan bercerita-cerita. Kang Yoga terlihat begitu kagum melihat bu Retno. Belakangan saya tau bahwa Kang Yoga itu punya keroncong juga, tapi yang dibawakan adalah lagu-lagu Rolling Stones! Gila kan! Tapi sepertinya keren lah. Musisi dari kota ini terkenal kreatif kok, dan mungkin salah satunya ya kang Yoga. Malam semakin turun dan kami masih asik berkumpul di luar. Berhubung para pemain keroncong mulai keroncongan mungkin, jadi pada makan juga di luar. Tidak ada tanda-tanda anak-anak kurtukoji akan tiba. Kami pun memutuskan untuk memulai latihan dengan KMP. Setelah ngobrol-ngobrol tentang lagu keroncong apa yang akan dibawakan oleh KMP pada saat paparan nanti, latihan pun dimulai. Para pemain keroncong siap pada posisi mereka dengan instrumen masing-masing. Tapi yang paling menarik perhatian saya adalah Pak Iding, si bapak pemain klarinet. Eits tunggu dulu, saya tertarik bukan karena si bapak ganteng. Tapi lebih karena pembawaan si bapak yang memang mungkin menjadi anggota tertua di hari itu dan sebagai pimpinan teknis dari KMP yang memberi pengarahan pada pemain yang lain. Dan tentunya tertarik pada klarinet antik yang akan segera ditiupnya. Lagu yang dilatih malam itu adalah Hmmm… Jelang Benam Matahari dan Cemara Lilin. Pada saat berlatih Cemara Lilin, lagu itu jadi terasa begitu enaknya di malam hari itu. Ditambah lagi saat suara Bu Retno mulai masuk. Wah, sajian musik mantap di malam hari! Suara klarinet, biola, gitar keroncong, bas betot, serta suara dari Cozy Street Corner sendiri membuat saya tak berhenti tersenyum gembira menikmatinya.

Setelah selesai berlatih, para pemain KMP pun pamit. Yang tersisa adalah Bu Retno, dan (ehemm) anaknya, Ade. Tak berapa lama, kurtukoji pun tiba. Mereka segera masuk dan mulai berlatih lagu-lagu yang turut menampilkan kurtukoji sebagai choir. T’usah Gundah, Hmmm… Jelang Benam Matahari, We Are The Ones. Mereka juga berlatih lagu Gayung Bersambut dan Kira Di Dada yang diiringi oleh Kang Yoga dan ‘handphone’ andalannya itu. Hehehe. Setelah itu anak-anak Kurtukoji pun makan nasi goreng, yang akhirnya datang belakangan setelah kami yang tadi mencari-cari dan tak menemukan akhirnya memakan jajanan yang lain. Sambil menunggu mereka selesai makan, saya keluar, mencari udara segar. Sekalian mau nyari kang Eman, ngasi mini dv yang udah dijanjiin kemaren. Ternyata di luar rame. Ada Kang Odon, Kang Moeloes, Kang Eman, Widi, trus siapa lagi ya? Ga tau deh ada kang Ipang dan Kewoy apa ngga. Lupa. Rame lah pokoknya. Si Kang Moeloes sempat ngajarin kk Boni bahasa Sunda, yang isinya entah artinya apa. Tapi menggelikan semua orang yang mendengar. Hahaha. Tiba-tiba angin jadi begitu kencang, dan gerimis pun mulai turun, hingga akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam (ya iyalah masuk ke dalam, masa’ iya masuk keluar gitu..). Di dalam, mas Adoy sedang berusaha keras mengajari anak-anak kurtukoji bernyanyi. Cukup gregetan sih liatnya. Bu Retno pun demikian. Sampai-sampai Bu Retno pun turut sesekali membenarkan suara yang agak lari. Tapi di situ saya belajar, bahwa membuat lagu ternyata tidak semudah yang saya bayangkan atau pernah lakukan. Pada tingkatan tertentu, seseorang akan sampai pada tahap ia mampu memodifikasi musik sedemikian rupa. Seperti yang dilakukan Cozy Streer Corner pada lagu-lagu mereka. Malam itu juga tejawab sudah, mengapa lagu T’usah Gundah dan We Are The Ones memiliki ketukan yang sering terasa lain. Karena memang lain. Ada ketukan 7 dan ketukan 8. Dan itu membuat saya semakin mengagumi musikalitas mereka. Saya cuma berpikir, bahwa saya tidak akan pernah tau bahwa ada perbedaan ketukan di sana sini walau saya mendengarkan dengan begitu seksama, dan akhirnya tau dari narasumbernya langsung.. Hehehe.. Om Kris menyusul masuk, lalu mas Do. Setelah dirasa cukup dan terlihat ada perubahan penguasaan lagu oleh anak-anak kurtukoji, latihan malam itu pun diakhiri. Hujan pun yang tadi sempat menderas sudah berhenti. Malam sudah pukul 10. Sebenarnya tidak enak juga dengan Bu Retno karena awalnya kami hanya minta ijin numpang latihan sampai jam setengah 10 saja. Nuhun pisan nya , Bu Retno. Kami pun pamit. Rencananya masih mau pergi makan lagi. Dan malam ini tujuannya adalah, hehehe, nasi campur guci.

Bukan, ini bukan pertunjukan debus, atau kuda lumping makan beling atau guci. Tenda makanannya ada di jl. Pasirkaliki, sebenarnya ada di seberang Hotel apa gitu saya lupa, berdekatan dengan Hotel Guci. Setelah bertanya pada kk Sylvie mengapa namanya nasi campur guci, barulah terjawab, bahwa menyebut Guci lebih singkat dan gampang ketimbang nyebut nama hotel yang tepat di seberangnya, yang namanya agak panjang, dan tentunya tidak saya ingat. Hehe. Awalnya saya sempat berpikir bahwa saya tidak makan lagi, mengingat di KMP tadi saya sudah menyantap sepiring (5 potong) siomay. Tapi melihat begitu menggiurkannya babi panggang dan baso-baso itu, saya pun menyerah. Tapi mas Do, Bhotax, dan mas Ibut tidak ikut makan bersama kami. Mereka mencari nasi goreng. Maaf ya mas Ibut, jadi ga enak. Tapi memang nasi campurnya itu enak banget. Mungkin karena laper (lagi) dan dimakan bersama di pinggir jalan, pada saat malam-malam di Bandung. Mungkin rasanya akan beda kalo di Jakarta. Udaranya pasti pengap. Asap kendaraan bau. Dan mungkin harganya beda. Tapi itulah Bandung, dengan segala yang indah dan mengagumkan di dalamnya. Saya jadi ingin tinggal dan kerja di Bandung. Semoga suatu hari nanti kesampaian.. (nelangsa…). Eniwei, nuhun pisan kk Sylvie untuk makan malam yang enak banget itu. Dari situ kami berpisah lagi. Menuju Bupati 91 tapi mampir dulu di Alfamart. Beli beberapa kebutuhan dan makanan lalu pulang. Tiba di Bupati 91, kami mulai malas-malasan. Duduk-duduk lagi di luar. Saya menyeduh segelas kopi panas. Rasanya luar biasa nikmat. Mungkin karena udaranya pun dingin. Seperti malam sebelumnya, si Mas Adoy pamit tidur duluan sementara kk Boni kembali bermain congklak, tapi kali ini tandingannya bukan Bhotax, tapi kk Sylvie. Lucu rasanya melihat mereka berdua, ‘ibu-ibu cozy’ ini main congklak sambil saling mencela atau mengadu ke pacar. Mengingat bahwa besok akan jadi hari yang sangat penting dan panjang, maka semua mulai siap-siap. Saya mengosongkan kamera dan numpang file di MacBook Pro nya mas Do. Sementara semua colokan sudah penuh dengan charger hp dan charger laptop. Yang tersisa adalah colokan dekat televisi. Sayangnya mati karena lampu di kamar mas Adoy dan kk Bonita dimatikan. Yang lucu adalah saat kk Sylvie dengan yakinnya bilang gini, “ya udah, dinyalain aja lampunya” sambil berjalan masuk ke kamar dan menyalakan lampu, lalu kemudian kaget sendiri saat tau kalo ternyata mas Adoy tuh dah tidur di situ. Hehehe, akhirnya saya hanya akan menunggu pagi untuk bisa mencharge hp dan kamera. Sekitar jam setengah 2 pagi, kami pun satu-satu mulai pergi ke tempat tidur masing-masing, bersiap untuk tidur. Dan tetap berdoa sama Tuhan, agar semuanya lancar, dan langit akan tetap cerah..


Bagian Kedua

Sabtu, 22 November 2008

(Bupati 91 – Kopi Selasar)

Saya terbangun jam 8 pagi. Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, membereskan tempat tidur, saya menuju ke luar, dan saya terkejut. Kenapa? Karena di kursi panjang di luar, Imada meringkuk dalam selimutnya! Semalaman tidur di luar! Gila. Kaya’ manusia gua, tahan tidur di udara dingin. Untungnya ga beku kedinginan. Hehehe. Padahal di dalam ada satu tempat tidur nganggur di atas, dan ada 1 kamar kosong di bawah lengkap dengan kasurnya, hanya saja entah mengapa kami memilih untuk tidak tidur di kamar itu, Bukan, bukan karena ada sesuatu yang aneh atau bernuansa gaib dengan kamar itu, tapi mungkin lebih karena letaknya yang terpencil dari keramaian di atas. Pagi ini Bhotax lebih rajin. Bergegas mandi pagi, setelah memastikan bahwa air panas tersedia di kamar mandi. Saya kembali membereskan meja sisa ngobrol-ngobrol semalam. Langit pagi ini terlihat baik-baik saja, walau memang agak sedikit berawan, tapi si energi positif itu harus tetap ada.. harus tetap yakin dan berharap malam nanti, semua akan baik adanya J Mestinya pagi ini kami harus segera bergegas mengingat bahwa jam 12 kami mesti sudah berangkat menuju Kopi Selasar. Kami pun segera membereskan barang-barang bawaan kami. Mulai mengantri mandi. Sambil antri mandi, kk Sylvie sempat cerita banyak tentang banyak hal juga. Mulai dari bagaimana mensiasati krisis finansial yang kemungkinan akan terus berlanjut hingga tahun 2009. Selain itu juga kk Sylvie bercerita tentang asal usul Aquaproof , bahan pelapis genteng anti bocor hingga cerita tentang essence untuk umpan pancingan. Lucu juga. Tentang antrian untuk mandi, awalnya urutannya akan berdasarkan abjad nama, yang artinya dari antara mereka semua, saya, dengan nama Tasya, dengan huruf ‘T’ itu akan jadi orang yang terakhir mandi. Tapi ternyata.. hehe, setelah mas Adoy, saya boleh mandi. Hore.. Setelah itu langsung masukin barang-barang ke mobil dan bersama Om Kris, mas Adoy, dan om Barata meluncur ke Kopi Selasar. Kk Sylvie masih mandi dan kk Boni masih mengeringkan rambut. Sementara mas Ibut dan Bhotax sudah duluan ke sana. Tapi, Imada kemana ya? Kalo soal yang ini saya beneran ga tau.

Tiba di Kopi Selasar, alat-alat sudah di-set. Belum selesai memang, karena masih belum lengkap semuanya. Di sana sudah ada Kang Odon, Kang Eman, trus siapa lagi ya? Ya pokoknya pas nyampe di sana, ketemunya sama merekalah. Setelah meletakkan barang-barang di Bale Handap, saya menuju amphitheater. Hmm, saat itu kurang lebih sudah pukul 11an. Dan matahari bersinar terang. Dalam hati saya tetap berdoa agar cuaca akan tetap cerah hingga malam ini selesai J

Siang itu Kopi Selasar masih tetap sepi. Hanya ada beberapa orang yang entah memang pengunjung atau mungkin dari pihak Selasarnya. Tak berapa lama, kk Bonita dan kk Sylvie datang. Ternyata saya (tak sengaja) meninggalkan kaos Radiohead saya di Bupati 91. Untung dibawakan oleh Kk Sylvie. Tlimakaci ya.. Kami pun duduk-duduk sejenak di Bale Handap lalu Kang Eman datang hendak menunjukkan opening screen untuk nanti malam. Lagu yang dipakai adalah Silent Song. Dan entah kenapa lagu dan si openingnya itu enak sekali dilihat dan didengar. Tapi penggambaran gelas kopi di atas kertas itu sekejap mengingatkan saya pada Heima, filmnya Sigur Ros pada bagian awal film, di mana ada kuas dan tinta hitam yang digunakan untuk menulis song list di atas sebuah kertas, yang kemudian tintanya ada yang sedikit berceceran di atas kertas. Tapi, itu semua keren J Setelah itu kang Eman mengingatkan kk Sylvie agar jangan lupa meninggalkan uang untuk membayar makan siang yang sudah dipesan. Tiba-tiba, si makan siang pun sudah sampai. Kang Odon membantu mengangkat 3 tray besar berisi.. Nasi Bakar.. dengan tiga rasa berbeda. Nasi bakar ati ampela, nasi bakar teri, dan nasi bakar ayam. Sekilas terlihat seperti nasi timbel biasa yang dibungkus daun pisang, bedanya ini dibakar. Tapi begitu daunnya dibuka, terciumlah aroma luar biasa nikmat. Nasi bakarnya tuh enaaaaaaaaaaaaaak sekali. Harganya kata kang Eman hanya 7500 perak perbungkusnya, sementara saya dan kk Boni berkomentar bahwa nasi bakar itu enak sekali dan kalau di Jakarta, harganya pasti akan lebih mahal, tapi orang pasti akan mau membeli, sekalipun sebungkusnya dijual seharga 20 ribu perak.. Kami sampai terkagum-kagum dengan rasanya, ditambah lagi nasi bakar ini masih dalam keadaan panas-hangat. Sayang, saya terlalu menikmati sampai-sampai tidak terpikir untuk mengabadikan gambar dari si nasi bakar. Setelah kenyang, saya dan Kk Boni beranjak ke amphitheater. Ceritanya mau mendengar dan melihat check sound. Tapi agak lama karena ternyata masih banyak ini itu yang harus dibereskan. Akhirnya kk Boni pun sempat cekson bersama Bhotax, mas Adoy, mas Do, dan om Barata, menyanyikan lagu.. yang judulnya apa ya? It’s over, now.. Itu bukan judulnya? Pokonya itu lagu keren, sampai-sampai tiba-tiba entah dari mana orang-orang di atas mulai berdatangan mendengar musik yang dimainkan dan dinyanyikan. Setelah itu, Afifa, yang akan mengiringi CSC dengan biolanya tiba di Kopi Selasar sekitar jam 1 siang. Kami berkenalan dan kembali menyaksikan acara ‘tes-tes mik dan geser-geser sound monitor’. Kk Sylvie dan om Kris pun akhirnya datang setelah tadi sempat pergi. Lalu kami kembali ke Bale Handap untuk duduk-duduk. Tapi sebuah peristiwa terjadi di sana. Saat saya hendak duduk, di lantai saya melihat ada yang begulung, benda berbulu berwarna kecokelatan. “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!”. Ulat bulu. Dan saya langsung kegelian bercampur takut setengah mati menjauhi si ulat bulu, yang kata Om Kris lucu gerak badannnya itu. Kk Boni pun ikut menjauhi. Untung ada mas Ibut yang berbaik hati menjauhkan si ulat bulu itu. Saya masih sedikit shock saat akhirnya saya bercerita kenapa saya agak trauma dengan ulat bulu. Saya bilang, “Gw suka lagu Ulat Bulu itu, tapi gw sama sekali ga suka dengan hewan itu..”. Saya bercerita tentang kejadian kejatuhan ulat bulu saat menyapu di bawah pohon rambutan. Waktu itu saya berusaha meyakinkan diri saya bahwa, ‘ulat bulu itu ada di pohon jambu, yang ditanam ibu’, seperti dalam lagu. Itu adalah usaha saya untuk tidak terlalu takut menyapu di bawah pohon rambutan yang rindang di halaman rumah. Ketika tiba-tiba seekor ulat bulu kecil jatuh ke leher saya dan kemudian, saya tidak ingat bagaimana saya melompat-lompat dan berteriak. Yang jelas saya ingat dari kejadian itu adalah, leher saya yang gatal setengah mati, bengkak di mana-mana, dan panas. Dan sejak saat itu, saya selalu takut untuk berada di bawah pepohonan. Pohon apapun itu.

Setelah itu kami duduk-duduk lagi di amphitheater ketika akhirnya mba Detta sampai juga dari Jakarta. Kami pun berfoto-foto. Setelah itu kami naik ke Kopi Selasar. Sore semakin rendah dan rasanya ingin menikmati kopi sore itu. Jadilah kk Sylvie, kk Boni, mba Detta, Afifa, dan saya duduk-duduk sambil menikmati minuman yang berbeda-beda di Kopi Selasar sambil mendengarkan Cozy Street Corner cek sound di bawah. Kopi Selasar pun mulai ramai. Kk Sylvie sempat menyapa Pak Anta, yang adalah bapak tukang Nasi Bakar yang enak banget itu, sampai-sampai Kk Boni minta dikenalkan dengan si bapak. Hehe. Setelah itu kami sempat menikmati pemandangan-pemandangan yang bisa kami nikmati sore itu. Kk Boni juga sempat memperkenalkan kami dengan Dian Sastro yang sore itu kebetulan datang ke Selasar. Katanya sih kalo sempat, nanti malam sehabis acara kawinan di Sierra akan mampir ke Selasar lagi. Yaaa.. what ever lah ya.. Mau datang, ya mari, kalo ngga pun, ya ga apa-apa juga.. Hehe.. Karena penasaran dengan cekson di bawah, kami pun turun. Eh astaga, mereka malah bubaran. Kami pun bengong. Kk Boni dan saya agak kesal. Dari tadi tuh ga tepat mulu waktunya untuk menyaksikan cekson mereka. Akhirnya kami kembali lagi ke Bale Handap. Sempat duduk-duduk lagi ketika tiba-tiba di panggung mereka mulai cekson lagi. Kk Boni hanya memelas menatap saya. Ah kesalnya. Kami pun akhirnya makan nasi bakar lagi. Hahaha. Kk Boni pun mulai bersiap-siap setelah baju dari Mitha nyampe. Oia, si Om Tata juga sudah tiba di Kopi Selasar sejak siang tadi. Sore itu kami sejenak menghangatkan diri di dalam Bale Handap. Imada, kk Boni, om Tata, kang Odon, mas Do, saya, Shana, dan Afifa. Sempat sibuk membatu memasangkan baju kk Boni yang bawahannya ga ada yang cocok. Ditambah lagi acara dagelan si Afifa yang udah kita tanyain tentang legging mamanya yang mungkin bisa dipinjam. Setelah panjang lebar, dia cuma bilang gini, “tapi mamaku juga badannya se-aku” yang artinya, sekecil si Afifa.. Halah.. Halah.. Akhirnya kang Odon nyari-nyari cara lah.. entah gimana itu.

Senja sudah hampir lewat. Semua pun semakin sibuk. Saya melihat jam, susah jam setengah 7 kurang. Sepertinya lebih baik buru-buru mandi lalu bersiap-siap menjaga meja tiket di atas, di luar. Dengan air yang terbatas di kamar mandi, saya pun cukup merasa segar untuk menjalani malam panjang ini. Setelah mandi, saya siap-siap saat kang Ipang dateng, memberitahu bahwa Kk Sylvie sudah menunggu di meja tiket. Saya pun buru-buru ke sana, tak lupa membawa kantongan berisi CD dan kaset. Setibanya di atas, kk Sylvie sudah bersama dengan sekitar 6 orang, yang mungkin adalah orang-orang dari Soy Joy, salah satu sponsor Paparan kali ini. Saya sendiri lupa siapa nama mereka… Maaf, dengan kebiasaan buruk saya. Suka enggan menanyakan kembali nama orang yang baru berkenalan. Tapi tengkiu banget mba siapa namanya, Diah, Dian atau siapa pun itu atas bantuannya walau kemudian ditinggal sendirian lagi. Kk Sylvie mau ganti baju, sementara si Om Tata yang tadi menawarkan diri untuk menemani menjaga tiket belum juga balik bersama si Kewoy, entah dari mana. Sempat agak panik sebenarnya apalagi saat tiba-tiba yang datang serendengan. Mesti nanya, undangan atau bukan. Kalau iya, mesti nyari namanya di guest list. Kalo ga ada, makin bingung deh. Kalau baru mau beli, mesti guntingin tiketnya, ngecap tangannya, ngasi buku repertoire-nya, meminta mereka untuk mengambil Soy Joy nya seorang satu, lalu menawarkan CD dan kaset, kemudian mempersilakan masuk. Itu kenapa saya senang sekali waktu liat Kang Eman datang. Mau ngebantuin sebentar. Tengkiu Kang. Kk Sylvie pun datang diantar om Kris. Lalu kk Sylvie duduk di kursi, di belokan ke arah dalam untuk memeriksa tiket dan cap di tangan. Orang pun mulai ramai. Om Tata akhirnya tiba. Ikut membantu membagikan repertoire. Pertunjukan di dalam pun dimulai. Saya berkali-kali memandang langit. Bersih. Dan tak putus-putusnya berdoa agar akan tetap cerah hingga selesai nanti.

Saya sebenarnya tidak mau sedih karena harus berada di luar menjaga tiket. Tapi ada hal lain yang menyebabkan hati ini sedikit miris. Yaaaaaa.. tentang masalah hati dan perasaan lah. Tapi saya ingat, bahwa semua orang harus punya energi positif malam ini, biar semuanya lancar. Jadi bagi saya, terlalu sayang jika karena orang itu energi positif yang sudah saya punya berubah jadi negatif, hanya karena ketidakpedulian dan ketidakpekaan manusia itu! Hhh.. sabar.. sabar.. Di tengah kesibukan itu, seseorang yang saya tunggu kedatangannya malam itu tiba. Mustika Rahmathya, si Thya Maknyess.. Utusan dari SkyFM. Kami pun bercipika cipiki sebelum akhirnya dia masuk. Lalu disusul lagi dengan kedatangan si Muttabati Arafatiani. Lucu bahwa 2 orang teman SMA saya yang datang malam itu adalah dua orang yang sama-sama memiliki nama panggilan ‘tia’, walau yang satu bernama Thya dan yang satu adalah Tia. Beberapa kali tiba-tiba meramai, tapi beberapa kali jadi begitu sepi. Hanya riuh tepuk tangan atau suara om Kris terdengar dari dalam. Saya, kk Sylvie, dan om Tata pun bergantian masuk untuk melihat sebentar, dan menjaga di luar.

Tak terasa session pertama pun selesai. Beberapa penonton ada yang keluar untuk mencari makanan, tapi beberapa juga ada yang pulang, terutama mereka yang membawa anak kecil.. Tak lama, session kedua pun dimulai. Lumayan jelas terdengar lagu Bubuy Bulan yang dibawakan oleh KMP, yang pagi tadi sempat jadi bahan diskusi panjang dan seru setelah latihan kemaren malam di KMP.. Semoga semua baik-baik saja di dalam sana. Bisa dibilang, pada akhirnya, ini adalah kali pertama saya menonton Paparan Cozy Street Corner dengan format seperti ini. Lari-lari ke dalam, numpang liat dari belakang mixer yang astaga panjang banget, atau sekedar mendengar dari meja depan. Ada sih yang sempat, saya turun ke bawah. Mencari kk Bonita untuk menonton bersama. Tapi saya sampai lupa. Tepatnya pada lagu apa. Tak Berarti, mungkin. Tapi itupun setelah akhirnya kami memutuskan untuk menutup saja meja tiket di depan dan membawa masuk meja merchandise ke dalam. Om Tata dan Kang Eman membantu mengangkat meja, sementara saya membawa perintilan-perintilan yang tertinggal.

Malam itu rasanya begitu aneh. Saya sebenarnya ingin merasa luar biasa puas akan apa yang sudah dan masih berlangsung. Tapi seperti ada gundah setelahnya menunggu. Dan rasanya itu cukup mengganggu. Saya masih sempat melihat tampilan Kang Harry Pochang dan penampilan Shindu yang mengudang decak kagum semua orang yang hadir malam itu. Sayang, saya tidak bisa melihat langsung penampilan kk Boni pada lagu Gayung Bersambut, yang juga diiringi sama Kang Yoga PeHaBe. Kenapa? Karena Om Tata udah minta dari awal, untuk bisa liat penampilan itu, jadi saya harus menjaga mejanya. Satu-satunya yang jadi harapan saya hanya hasil rekaman dari tim dokumentasi malam itu saja. Semoga itu bisa mengobati rasa aneh di dalam hati saya.

Satu hal yang saya ingat dengan pasti adalah saya terkesima melihat deretan manusia yang masih tetap duduk manis di tempat duduk mereka sejak awal acara. Dengan jumlah penonton sekitar 200 orang dan tetap ada di sana hingga acara berakhir, saya begitu yakin, bahwa mereka pasti akan pulang dengan wajah tersenyum dan hati yang gembira. Mereka telah dipapari (ada ga sih kata di-papar-i?) sebuah sajian musik berkualitas dan telinga mereka telah dipuaskan oleh mantapnya sound system malam itu. Saya yakin dalam pikiran mereka pasti akan ada 1 dari kurang lebih 28 lagu yang ditampilkan malam itu akan terus-menerus terngiang hingga beberapa hari kedepan, dan saya yakin, dari antara mereka, ada yang sudah tidak sabar menunggu penampilan CSC selanjutnya. Dan pemikiran itu membuat saya merasa bahagia bisa menjadi bagian dari acara ini..

Oh ya, saya ingat, malam itu selain penampilan kang Harry Pochang, yang saya tunggu-tunggu adalah lagu Purna Sudah yang pertama kali saya dengar di Saung Udjo, Paparan Juni 2008 lalu. Dan betapa senangnya saya, malam itu lagu itu dibawakan dengan begitu sempurna. Walau sebenarnya lagu itu akan sangat sempurna kalau Om Barata memainkan Bedug-nya. Sayang malam itu, sang bedug memang tidak dibawa. Tidak dibawa dari Jakarta, karena memang tak terbawa dalam Daihatsu Taruna yang dibawa Bhotax. Ga muat gitu.

Walau sebenarnya saya merasa bahwa semua ini seperti mimpi indah, yang ketika dibawa tidur dan esok pagi terbangun akan berlalu begitu saja. Saya selalu ingat akan perbincangan saya suatu hari dengan Anyi via telpon, beberapa hari sebelum paparan di Saung Udjo, bulan Juni lalu. Ada hal yang membuat kami akan berpikir bahwa kemaren, 2 hari yang lalu, seminggu yang lalu, bahkan sebulan yang lalu kami baru saja menyaksikan Paparan Musikal Cozy Street Corner, dengan kesederhanaan panggung, yang seingat saya tidak pernah dihias-hias dengan backdrop layaknya acara-acara musik tertentu, tapi justru kesederhanaan itu yang membuat orang-orang yang tampil di atasnya menjadi begitu spesial. Yang jelas, bagi saya malam ini adalah malam yang pantas dan layak dikenang selamanya. Mungkin memang benar bahwa kali ini saya tidak bisa cerita banyak tentang lagu per lagu yang dimainkan. Seingat saya, lagu yang benar-benar saya saksikan dari awal adalah Tak Berarti, Purna Sudah, Kira Di Dada, dan Punyaku Sendiri.. dan 4 lagu tersebut adalah bagian dari 28 lagu yang dibawakan oleh CSC malam itu.. Dan bagi saya, 4 lagu itu sudah cukup memuaskan ketertinggalan saya akan 24 lagu lainnya.. Aaaaah, saya tiba-tiba jadi kehilangan kata-kata…

Yang jelas, saya bersyukur sama Tuhan yang hari itu sangat baik pada kami semua. Memberi cuaca yang sangat bersahabat, memberi waktu dan ruang bagi kami untuk menikmati keindahan dan kebersamaan. Memberi kesempatan bagi CSC dan semua pendukungnya untuk memberi yang terbaik.

Tak terasa, akhirnya lagu Farewell So Long, dan Mari Pulang akhirnya menghantar pada ujung acara yang berakhir sekitar pukul 11.30 (atau lebih ya? saya lupa, dan tidak tertarik untuk melihat jam malam itu..).. Para penonton pun mulai meninggalkan tempat mereka duduk selama kurang lebih 4 jam terakhir. Saya tetap pada posisi menjaga meja merchandise bersama om Tata. Senang rasanya banyak yang ingin membeli CD, kaset, atau sekedar membeli pin yang dijual. Kalau dulu di Saung Udjo, CD yang terjual hanya 6 buah, maka malam itu yang terjual menjadi 22 CD.. Semoga mereka benar-benar bisa menikmatinya..

Kami masih sempat bersalam-salaman dengan orang-orang yang kami kenal atau baru kami kenal malam itu. Saya yakin mereka sudah lelah dan mengantuk, tapi mereka tidak bisa menyembunyikan rasa puas dan bahagia mereka di balik muka lelah mereka. Dan saya berharap mereka pun akan punya cerita masing-masing untuk mereka kenang dan mereka bagi kepada orang lain tentang acara ini.

Kami pun mulai membereskan barang-barang dan membawa kembali ke Bale Handap. Saya terkejut melihat mas Do sudah tergeletak di dalam Bale Handap, dengan keadaan tidak berdaya. Rupan benar-benar tumbang kecapean. Di dalam bale Handap ada Mas Adoy, kk Bonita, Om Barata, Bhotax, mba Detta, dan Imada. Kk Boni kemudian jadi agak panik mencari kantongan yang katanya berupa keresek hitam berisi baju dari Mitha. Susah payah hingga kk Boni pun jadi terlihat tidak tenang. Dan ternyata baju ‘kelelawar’ serta bawahan warna hitam itu tidak dibungkus dalam kantong plastik keresek hitam, tapi dalam tas hitam. Hahaha. Geli rasanya mengingat betapa paniknya kk Boni.

Sebelum satu per satu mereka pergi lagi ke atas untuk ngobrol dan nongkrong, kami sempat duduk-duduk di dalam Bale Handap. Saya membuka pembicaraan malam itu. Kembali membahas tentang perasaan yang muncul setelah paparan. Saya bilang bahwa, rasanya tuh aneh. Sepertinya selama beberapa hari menjelang paparan, kita semua sama-sama sibuk mempersiapkan ini itu. Hingga pada akhirnya Paparan Musikal Napak Tilas ini berjalan dengan lancar, ada semacam gundah (entah pantas disebut gundah atau tidak) yang muncul di belakang. Mungkin lebih tepatnya, saya mendefinisikan rasa itu dengan, hampa, nelangsa, atau hambar. Sepertinya ya itu, seperti habis bermimpi indah dan harus bangun kembali pada kenyataan yang penuh dengan rutinitas. “Udah, cuma gini aja niy? Selesai begitu aja?” kira-kira seperti itu. Imada sempat bertanya, emang ada pilihan lain? Saya bilang memang tidak ada. Tapi ya gitu, rasanya tuh sepertinya ingin ini teruuuuuuuuuuuuuuuus berlanjut. Dan saya senang karena Bhotax menangkap maksud saya. “Gw juga ngerasain apa yang lo rasain..” (cieeeeeee.. colongan gitu.. hahahahaha). Saya yakin, sebenarnya bukan hanya saya yang punya perasaan seperti itu. Tapi ya mau bagaimana lagi? Hidup harus kembali normal dan berjalan seperti biasa lagi. Dan satu-satunya cara bagi saya untuk menghilangkan perasaan aneh itu adalah dengan terus mengingat detik per detik, menit per menit, jam per jam, bahkan hari per hari perjalanan itu sendiri. Membuat catatan yang bisa saya ingat dan saya bagikan ke orang lain, serta terus menikmati semua yang masih bisa dikenang setelahnya.. Ah..

Akhirnya mereka satu-satu pergi. Tinggal saya, mba Detta, dan mas Do di Bale Handap. Saya dan mba Detta hanya berharap mas Do baik-baik saja, melihat dan mendengar mas Do menggigil dan mengerang kesakitan membuat kami jadi takut. Saya dan mba Detta sudah bersiap untuk membaringkan badan yang sudah lelah. Dari luar masih terdegar tawa dan cerita dari orang-orang. Merayakan kesuksesan malam itu. Sebenarnya sangat ingin bangun lagi dan menentang udara dingin untuk duduk bersama mereka. Tapi saya tidak kuat lagi. Tawa om Barata masih terdengar membahana di malam yang sudah semakin sepi itu. Malam itu sudah pukul 2.05 saat akhirnya om Kris, kk Sylvie, Om Barata, Mas Adoy, kk Bonita, mas Ibut, om Barata, dan Bhotax kembali ke Bale Handap. Imada sebelumnya sudah duluan tidur sesaat setelah saya dan mba Detta membereskan ruang tamu kecil tempat kami akan tidur. Kami sempat membangunkan mas Do untuk memberi obat, berharap bisa lebih tenang dan demamnya berkurang. Kami pun saling mengucapkan selamat tidur.. Saya jadi begitu ingin mendengar lagu Selamat Tidur..

ramah senja nyapa.. oh malam kini datang..

kita pejam mata.. tidur kita terlelap..

ada cerita yang damai hiasi mimpi..

yang nampak hanyalah.. berdua kita tertawa

berjalan arungi segala.. ruang dan waktu yang dib’ri..

Selamat tidur semuanya.. Semoga mimpi indah..


Bagian ketiga

Minggu, 23 November 2008

(Kopi Selasar – Dago – Dipatiukur – Jatibening)

Saya terbangun pukul 9 pagi mungkin. Mba Detta sudah bangun. Katanya sangat sayang melewatkan pagi hari di Bandung. Dalam keadaan masih mengantuk, sayup-sayup Imada dan mba Detta bercerita di luar. Mas Do pun sudah terbangun, dan syukurnya dalam keadaan yang sudah jauh lebih baik dari tadi malam. Mas Ibut pun sepertinya sudah terbangun. Maaf sekali buat mas Ibut yang akhirnya harus tidur di kursi panjang di ruang makan. Maaf ya mas Ibut. Saya sempat bercerita pada mas Do bagaimana kami semalam sampai takut mendengar mas Do yang mengigau dan mengerang, “Aduh.. aduuuuh..”. Tiba-tiba Imada dan mba Detta mulai bernyanyi bersama. Lagu Hari Ini. Lagu sekolah minggu. Saya dan mas Do pun mulai bernostalgia tentang pengalaman kami waktu masih kecil di sekolah minggu dulu. Lagu berikutnya adalah Betapa Hatiku Berterima Kasih, Tuhan yang liriknya agak terlupakan oleh Imada dan mba Detta, hingga saya pun ikut bernyanyi. Saya tiba-tiba jadi merindukan Minggu pagi di Tembagapura, kota kelahiran saya. Selama kurang lebih 11 tahun saya mengikuti sesuatu yang dulu saya pikir hanya bersifat rutin dan formalitas semata. Tapi ternyata Sekolah Minggu itu bukan sekedar acara minggu pagi yang wajib diikuti oleh anak-anak. Saya menyadari betapa banyak pelajaran yang saya dapat. Betapa akhirnya saya merindukan masa-masa itu.. Ah..

Kemudian satu per satu pun mulai bangun. Imada segera bergegas karena akan pulang ke Jakarta dengan travel jam 11. Mba Detta mengajak kk Boni untuk menikmati toilet di atas yang jauh lebih manusiawi daripada yang ada di Bale Handap. Sementara mas Ibut duduk di luar bersama Bhotax. Mas Do kembali tidur, dan saya memutuskan untuk mandi saja. Segar rasanya. Setelah membereskan baju-baju kotor dan memasukkan barang-barang ke dalam tas, saya pun menyusul mba Detta dan kk Boni yang sudah duduk-duduk di Kopi Selasar.. Tak terasa sudah jam 11 siang. Tergiur dengan makanan yang sudah dipesan, saya pun memutuskan untuk memesan makanan dan minuman. Saya memesan Selasar’s Bites (saya pilih yang isinya chiken balls dan kentang goreng) serta minuman.. entah apa namanya.. saya lupa. Yang jelas minuman dingin berperisa kopi atau cappucino dengan vanilla ice cream dan whipcream di atasnya. Rasanya?? Mesti coba sendiri. Kalo menurut saya, ENAK J

Kami bercerita tentang banyak hal. Kami duduk di kursi tinggi yang menghadap ke arah amphitheater. Saya kembali membuka pembicaraan tentang, bisakah kita bayangkan kembali bahwa bangku-bangku serta panggung kosong di bawah sana, semalam terisi penuh dengan penonton serta dengan suara musik live dari Cozy Street Corner.. Ah.. saya rasanya mau menangis. Bukan sedih. Juga bukan terharu. Entah apa rasanya itu. Miris? Ngga taulah.. Om Kris dan kk Sylvie kemudian menyusul kami ke Kopi Selasar. Kami sempat bercerita-cerita. Sebenarnya saat-saat seperti ini yang menyenangkan buat saya. Bahwa setelah tadi malam, kami akan duduk bersama-sama. Saling berbagi cerita tentang tadi malam. Baik itu cerita yang dialami orang per orang, atau cerita yang kemudian di-iya-kan oleh orang lain yang punya cerita sama.. Semuanya itu seperti ajang bercerita bagi kami dan ajang melengkapi potongan-potongan peristiwa yang sempat kami rekam dalam otak kami semalam.. Dan tiba-tiba saya jadi sangat merindukan Anyi dan Gabi.. Wish you both were here, girls.. Kenapa? Karena Juni lalu di Saung Udjo kami melakukan hal yang sama. Bercerita kembali tentang pertunjukan semalam..

Mas Adoy, Mas Do, dan om Barata pun menyusul ke atas. Disusul mas Ibut. Saya lupa, Bhotax ikut atau tidak. Yang jelas mba Detta dan kk Boni memutuskan kembali ke Bale Handap, untuk kembali tidur-tiduran dan kemudian bersiap-siap. Saya, kk Boni, dan Kk Sylvie sebelumnya sempat menghitung tiket dan uang yang kami peroleh dari penjualan tiket. Memang kurnang sinkron, karena sepertinya ada beberapa tiket yang akhirnya dibagi-bagikan pada penonton saat mau pulang, sebagai kenang-kenangan.. Maaf ya Kk Sylvie kalo jadi membingungkan.. Setelah itu kami duduk-duduk di meja yang lebih besar. Om Kris, Kk Sylvie, Mas Ibut, Mas Do, Mas Adoy, dan saya. Kembali membagi cerita-cerita seputar paparan tadi malam. Bahwa saya bertemu dengan Om-nya Om Kris yang menurut kk Sylvie berkulit putih padahal jelas-jelas hitam. Bahwa mereka bertemu dengan teman-teman lama. Bahwa banyak hal menarik, lucu, bodoh yang terjadi semalam. Seperti cerita kk Sylvie yang mencari-cari mas Ibut yang ternyata tepat ada di depannya. Atau cerita tentang mencari-cari biola Shana dan Afifa yang saya dan mas Ibut simpan di kolong meja dalam kamar, sementara dicari sampai ke dalam mobil. Atau cerita tentang Kang Harry yang minta agar next time kalo diajak manggung, lebih baik membawakan lagunya CSC saja.. Sempat juga membahas tentang proyek CUPU records, serta Cozy Trip ke sekolah-sekolah.. kemungkinan kerja sama dengan sponsor yang punya kegiatan rutin, hingga rencana mencetak kembali CD Nirmana dan men-CD kan #1 repackage.. Hhhh.. Tak terasa siang akhirnya berakhir dan sore pun hampir tiba..

Kami kembali ke Bale Handap, sementara Om Kris dan Kk Sylvie masih duduk di sana menghabiskan kopinya.. Di Bale Handap, saya mengambil 2 repertoire untuk saya simpan. Salah satunya saya mintakan ditandatangani oleh mas Do, mas Adoy, kk Boni, Om Barata, Bhotax, om Kris, dan kk Sylvie.. Senang rasanya punya kenang-kenangan dari acara ini..

Sore semakin dekat. Jam 3 an kami mulai membantu mengangkat barang-barang ke mobil. Lumayan cape juga mengingat bahwa drums, perkusi, dan gitar-gitar itu ternyata berat, ditambah medan menanjak dari Bale Handap menuju parkiran. Harus melalui Kopi Selasar pula yang mulai dipadati orang-orang. Tapi ada sedikit rasa bangga, melewati keramaian itu sambil mengangkut-angkut alat-alat bersama dengan Cozy Street Corner.. Hehehe.. kali-kali aja kami semua dikira anggota band gitu.. Hahahahaha :D

Acara angkut-angkut itu selesai dan kami duduk-duduk dekat mobil. Kami siap-siap untuk berfoto bersama di depan tulisan Kopi Selasar sambil menunggu Pak Iyus yang tak kunjung datang. Kami berfoto di dua titik. Di depan tulisan Kopi Selasar dan di bawah spanduk acara Selasar Sunaryo yang salah satunya bertuliskan Cozy Street Corner. Senang rasanya kami bisa mengabadikan momen tersebut. Tengkiu banget mba Detta. Dan seperti memang sudah ditakdirkan, batere kamera mba Detta habis setelah semuanya selesai. Setelah bersalaman dengan Pak Iyus dan mas Ari (iya bukan ya namanya Ari?), taksi yang dipesanpun datang. Om Barata, mas Do, dan Bhotax berpisah dengan kami. Mba Detta, mas Adoy, dan kk Boni naik taksi bersama barang-barang kami. Sementara om Kris, kk Sylvie, mas Ibut, dan saya ikut di mobil kk Sylvie. Kami meluncuri jalan Dago dan menuju citi-trans di Dipatiukur.. Setelah menitipkan barang dan mengkonfrmasi kepulangan kami ke Jakarta, kami makan di Nasi Ampera sebelah Citi-Trans. Kk Sylvie sepertinya benar-benar lapar hingga begitu kalap melihat macam-macam lauk. Pun demikian dengan kami J Dan lagi, makan kali ini dibayarin kk Sylvie lagi. Tengkiu lagiiiiiiiiiii.. Kami makan ditemani lagu Isabella. Vokal khas Amy Search melengking lewat speaker di Nasi Ampera. Om Kris bercerita tentang lagu Gerimis Mengundang versi live yang diperdengarkan Nde (Shandy ya om Kris?) yang katanya keren banget hingga riuh tepuk tangan penonton terdengar dalam rekaman itu. Kami lupa siapa yang menyanyikan lagu Gerimis Mengundang. Kami pun masih sempat membahas paparan semalam. Akhirnya kk Sylvie harus pamit duluan karena harus bersiap-siap untuk menghadiri acara kawinan teman baiknya waktu SMA (eh, benerkan ya?). Tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 5 sore. Om Kris pun pamit dan naik taksi menuju kos-an nya. Kami kembali ke Citi-Trans dan menunggu di dalam. Kami akan berangkat jam 5.30. Mas Adoy, kk Bonita, Mba Detta akan naik citi-trans menuju Fatmawati, sementara saya akan naik yang ke arah Semanggi, karena saya akan turun di Jatibening.

Saya sempat membeli beberapa cemilan untuk dibawa jadi oleh-oleh orang di rumah, walaupun memang bukan oleh-oleh khas dari Bandung. Pengeras suara pun mengumumkan agar para penumpang memasuki mobil yang akan segera berangkat. Kami pun berpisah. Saya masih menunggu karena mobil yang akan saya naiki belum juga terlihat. Setelah mobilnya muncul, saya pun naik. Memesankan pada pak Supir bahwa saya akan turun di Jatibening. Mobil pun kemudian berjalan.

Itu adalah sore hari di Bandung pukul 6 kurang. Lampu jalanan sudah mulai menyala dan gerimis mulai turun. Saya memandang hampa dari jendela, entah berharap apa. Teringat untuk berdoa agar pejalanannya lancar sampai di rumah. Saya sempat mengirimkan pesan singkat kepada Bang Iwan yang akhirnya tidak sempat hadir pada paparan semalam. Juga mengirimkan beberapa baris kalimat dan mohon pamit sama seseorang… yang mungkin ga akan pernah saya temui. Orang yang raut dan lekuk wajahnya mungkin ga akan pernah saya lihat sampai kapan pun. Mungkin hanya Tuhan dan dia yang tau, kapan kami akan sempat bertemu. Kapan dia akan mau bertemu. Dan hujan deras pun turun sepanjang jalan..

Inginnya saya menutup mata saja sambil mendengarkan lagu di hp.. tapi perasaan tak jelas itu mengganggu sekali.. tak terasa memang, air mata saya sempat meluncur sebelum akhirnya segera saya seka dengan tisu. Hp saya berbunyi, suara anak kecil yang riang terdengar di seberang. Hazel, keponakan saya. Sayang saya sepertinya tidak akan sempat bertemu dia di rumah nanti, melihat bahwa jalan tol Cipularang menuju Jakarta malam itu tersendat karena hujan deras. Ada rasa bersyukur karena pada akhirnya si pak Supir ga bisa ngebut ngejar 2 jam sampai. Juga rasa syukur bisa menikmati redup lampu-lampu mobil dan deras hujan malam itu..

Memasuki daerah Bekasi Timur, hujan benar-benar mereda. Bahkan mungkin di Bekasi Barat hujan tidak turun, pun demikian dengan di Jatibening. Saya turun di tempat saya biasa menunggu bis ke arah Jakarta. Setelah mengucapkan terima kasih pada pak Supir, saya pun menaiki tangga menuju pangkalan ojek di atas. Rupanya hanya gerimis kecil yang turun sore tadi, menurut pak tukang ojek. Sampai di depan rumah, saya membayar si bapak dan memencet bel. Rupanya ada tamu. Saya menyapa mama dan segera naik ke kamar. Mulai mengeluarkan pakaian2 kotor. Mandi. Kembali pada kamar mandi itu lagi. Setelahnya saya duduk sejenak di atas tempat tidur saya. Terdiam. Saya seperti baru terbangun dari mimpi indah yang panjang. Jam 9 saya turun ke bawah setelah mendengar tamu pulang. Saya membuka oleh-oleh kacang telor yang tadi dibeli, sambil bercerita singkat pada mama dan bapak.Setelah itu kami pun berdoa bersama dan menuju kamar masing-masing.

Saya tidak ingin segera terlelap. Saya duduk di depan komputer. Memindahkan foto-foto dari kamera. Melihat-lihat kembali sederetan gambar. Tidak ada satupun saya di sana.. Hanya berharap pada mba Detta dan yang lain yang kebetulan mengabadikan momen, dan ada saya di sana.. Hehehe.. Setengah 12 malam saya pun tidur.. bertemankan hujan deras yang turun hingga subuh tiba..

Bagian Terakhir

Ini adalah bagian terakhir dari catatan perjalanan saya. Terus terang, lagu yang sampai kemarin sore masih terngiang di otak saya adalah We Are The Ones. Semalam saya menulis ini sambil fesbukan dengan Kang Yoga dan Bhotax. Mengapa tulisan ini harus saya buat, seberapa pentingnya untuk saya, dan akan menjadi sepanjang apa. Kang Yoga bilang, tulisan tentang TURTUKOJI ini mestinya nyampe 100 halaman. Sementara 20 halaman saja menurut saya sudah terlalu panjang. Sebenarnya saya tidak terlalu peduli apa kata orang saat membaca tulisan saya. Bagaimana mereka akan mengomentari gaya penulisan atau apa pun itu. Toh itu hak mereka. Seperti yang saya bilang di awal, ini kebutuhan pribadi saya. Menulis untuk diri saya, pun pada akhirnya bisa bermanfaat bagi orang lain. menurut saya itu adalah bonus. Pagi ini saya menyelesaikan tulisan ini. Tidak dengan lagu We Are The Ones, tapi ditemani Silent Song dan Selamat Tidur. Dan rasanya saya ingin menangis, entah kenapa. Saya harap bukan karena perasaan sedih atau negatif lainnya..

Saya ingin menutup tulisan ini dengan ucapan syukur pada Tuhan yang memberi saya memori yang cukup baik untuk mengingat perjalanan kemarin, dan memberi saya kemampuan untuk memanggil kembali memori tersebut dari dalam otak untuk dituliskan. Tentunya bersyukur juga atas semua yang sudah terjadi dari Kamis hingga Minggu lalu, terutama untuk kesuksesan Paparan Musikal : Napak Tilas 12 tahun Cozy Street Corner.. Terima kasih juga untuk Mas Ribut Cahyono yang mengijinkan saya bisa ikut membantu dan menikmati perjalanan ini. Kepada Karina Adistiana dan Anindita Gabriella atas sms dan energi positifnya. Anindita Damayati untuk telponan saving facenya. Kepada Cozy Street Corner : Kristian Takarbessy, Petrus Briyanto Adi, Boby Priambodo, Barata Eli G, Agus Leonardi, Bonita Adi, dan kk Sylvie Purnamsidi atas segala kebaikan hati dan atas 4 hari 3 malam yang tak akan terlupakan. Kepada Mba Detta Dwiarto dan Imada Hutagalung atas bincang-bincang tentang berbagai macam hal. Kepada Om Ambia Hatta atas kebaikan hatinya membantu dan menghibur. Kepada teman-teman baru dari Bandung : Kang Donnie B. Wijaksana dan keluarga, Kang Eman Wiryadi, Kang Moeloes dan keluarga kecilnya, Kang Ipang, Kang Yoga Sundana Perkasa, Kewoy, Widi, Kurtukoji, Afifa Ayu, dan Shana. Semoga ada waktu untuk kita bertemu lagi. Dan yang terakhir kepada Bapak dan Mama atas kebaikan hatinya mengijinkan saya pergi mengikuti kemauan saya sendiri.. God Bless Us all..

What a day!

TURTUKOJI 2008 (bagian pertama)

Jadi, pada akhirnya, saya berhasil juga menyaksikan sebuah pagelaran musik akbar di tahun 2008 ini. Bukan. Bukan konser dari sebuah band kenamaan asal Amerika atau Eropa, atau band papan atas Indonesia. Ini sebuah pagelaran musik sebuah band indie asal Indonesia, yang oleh mereka yang menggelarnya disebut sebagai Paparan Musikal. Ya! Paparan Musikal Cozy Street Corner. Cozy Street Corner yang kali ini bekerja sama dengan WWF Indonesia dan Saung Angklung Udjo, menggelar Paparan Musikal bertajuk “Senandung Warna Bumi”. Penyelenggaraannya pada tanggal 7 Juni 2008 di Saung Angklung Udjo juga dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup sedunia yang jatuh pada tanggal 5 Juni 2008.

Dalam paparan musikal kali ini, Cozy Street Corner membawakan 22 lagu dari campuran ketiga album mereka (#1 repackage, nirmana, #3.3). CSC juga berkolaborasi dengan Saung Angklung Udjo, Keroncong Asli Merah Putih, Bonita, Kurtukoji, serta Sindu dan Patricia. Paduan warna musik Cozy Street Corner dengan permainan angklung dan arumba pada lagu “S.B.U”, “Berlayar di Siang Hari”, dan “Purna Sudah” menghasilkan sebuah atmosfer hangat dan bersahabat, menonjolkan ‘keindonesiaan’ musik itu sendiri. Ditambah lagi keapikan Keroncong Asli Merah Putih yang sebelumnya juga telah tampil dalam Paparan Musikal Cozy Street Corner 10 November 2007 di Jakarta, membuat para penikmat musik yang memenuhi Saung Angklung malam itu terbuai oleh alunan keroncong a la Cozy Street Corner. KMP mengiringi Kris (lead vocal, guitar) pada lagu “Cemara Lilin” dan mengiringi Adoy (bass, vocal) pada lagu “Putri Ayu”. Selain itu KMP juga tampil dengan lagu “Bandung Selatan di Waktu Malam”. Warna suara Bonita yang jernih pada lagu “Penuh Dengan Cinta”, “What A Day”, dan “Gayung Bersambut (Apa Iya?)” berpadu dengan musik yang oleh Cozy Street Corner sendiri tidak ingin dilabel sebagai salah satu aliran musik tertentu saja. Selain itu tampilnya Kurtukoji (kelompok paduan suara dari STISI Bandung) juga melengkapi komposisi musik Cozy Street Corner malam itu yang juga didukung oleh additional artist, Agus Leonardi (drums), Barata (percussions), dan Nelden Djakababa (soprano recorder). Yang tak kalah menarik adalah kehadiran koreografi tari tradisional dari Sindu dan Patricia pada lagu “Punyaku Sendiri” yang mengundang decak kagum kurang lebih 250 orang yang hadir malam itu.

Seperti pada penampilan yang sudah-sudah, Cozy Street Corner senantiasa berinteraksi dengan para penontonnya. Pada beberapa lagu seperti “What A Day” dan “Dendang Bersahutan”, Kris, Boby, dan Adoy mengajak para penonton untuk bernyanyi bersama, atau ya, berdendang bersahutan dengan mereka. Di beberapa lagu seperti “Kira Di Dada”, penonton secara spontan bertepuk tangan, bahkan tidak sedikit yang berdiri bersama-sama dan berjoget mengikuti alunan musik pada lagu yang bernuansa agak ‘dangdut’ itu. Semuanya itu menjadi suguhan yang sangat memuaskan bagi semua yang datang, bahkan menjadi kepuasan tersendiri bagi Cozy Street Corner.

Selain menikmati repertoir musik, para penonton juga sempat diajak untuk menyimak sebuah flim dokumenter dari WWF Indonesia yang berjudul “Turtle Berau”, yang pada kesempatan itu lebih memfokuskan kampanye mereka tentang kelautan. Para penonton yang baru tiba juga diberikan kesempatan untuk mengetahui sekilas tentang keadaan perairan / kelautan Indonesia serta keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya lewat brosur dan leaflet yang dibagikan.

Saung Angklung Udjo pun tak kalah serunya mengajak para penonton untuk sejenak mengenal alat musik bambu tradisional Sunda ini melalui workshop singkat sebelum acara dimulai. Tiap penonton dibagikan masing-masing satu buah angklung dengan nada berbeda-beda. Mereka diajari bagaimana cara membunyikannya kemudian diajak untuk mengambil bagian dalam sebuah lagu yang sudah dipersiapkan. Ternyata para penonton cepat belajar dan mengerti sehingga tak kalah mantapnya memainkan angklung, walaupun mungkin tidak sehebat dan selancar pemain angklung profesional. Hal lain yang ditawarkan oleh Saung Angklung Udjo adalah berbagai cinderamata khas Saung Angklung yang dijual di toko cindera mata yang memang harus dilalui penonton untuk menuju Balai Karasemen. Berbagai ukuran angklung dan berbagai jenis pernak-pernik lainnya dengan harga cukup terjangkau dapat diperoleh di toko ini.

Tak terasa, waktu pun menunjukan pukul 10.15 malam, dan pertunjukan pun berakhir.Sungguh, sebuah pengalaman yang tidak mudah dijelaskan dengan kata-kata dan akan sangat sulit lekang dari ingatan. Pengalaman yang akan terus diputar ulang dalam benak beberapa saat mendatang. Malam minggu itu menjadi malam minggu ketiga dalam hidup saya yang saya rasa paling indah dan menakjubkan sehingga patut dikenang selamanya. Dua malam minggu lainnya adalah hari Sabtu malam tanggal 28 Mei 2005 di Selasar Sunaryo, Bandung pada saat Paparan Musikal “Detak Nadi Musik Bumi” dan malam minggu kedua adalah Sabtu malam tanggal 10 November 2007 di Goethe Haus-Menteng, Jakarta pada saat Paparan Musikal “Save Our Music”. Ya, ketiga malam minggu itu saat paling membahagiakan bagi saya, di mana saya kembali mendapat pengalaman musikal yang luar biasa. Dan terima kasih kepada Cozy Street Corner yang memberikan pengalaman tersebut kepada saya.


TURTUKOJI 2008 (bagian kedua)

p e r j a l a n a n n y a (saya) . . .

Adapun bagi saya, pengalaman ini tidak hanya pada saat acara Paparan Musikalnya berlangsung. Semuanya dimulai dari keberangkatan saya dan teman-teman menuju Bandung. Kami berangkat dari Jakarta sekitar pukul 9.30 malam setelah Mba Detta (RDI), Gabi, dan saya dijemput di Plaza Indonesia. Mobil yang kami gunakan adalah sebuah mobil sewaan bersama drivernya, dengan jenis van berkapasitas 12 orang+1 (si bapak driver). Ya, mereknya Pregio. Di barisan depan duduklah Kang Dadang sang driver dan Yogi (yang rambutnya gimbal) yang malam itu menjadi music director dalam perjalanan kami namun kemudian tertidur karena tiba-tiba si audio playernya ngadat. Di barisan kedua duduklah Anyi (yang pada saat kami naik dari depan Hotel Grand Hyatt sudah meringkuk bersama bantal kesayangannya), Mba Detta, dan saya. Di baris ketiga ada Wiwit dan kekasihnya (halah), Imada, dan Gabi. Di baris terakhir ada Fara, Sasha, dan Ombus. Total semuanya 11 orang, seperti sebuah kesebelasan sepak bola. Kami sempat sama-sama bernyanyi sambil mendengarkan lagu “Rehab”-nya Amy Winehouse. Malam itu kawasan Sudirman lumayan padat dan sedikit tersendat. Lepas dari sana kami memasuki Jl. Jend. Gatot Subroto, melipir menghampiri pintu tol Semanggi 2. Lalu kami kembali berjalan perlahan, ternsendat di jalan yang katanya ‘bebas hambatan’ itu.

Sekitar pukul 10 malam kami baru tiba di pintu tol Pondok Gede Timur. Di sebelah kiri tol, saya menoleh pada perumahan tempat tinggal saya. Ada sedikit rasa kuatir sebenarnya karena malam sebelumnya hujan turun dengan deras sementara rumah orang tua saya itu hanya beratapkan kain terpal setelah semua gentengnya dibuka untuk direnovasi. Yang terjadi adalah kain terpal ternyata tidak terlalu sempurna menutup semua permukaan atas rumah sehingga air hujan tetap membasahi plafon yang kemudian memberat lalu roboh. Itu yang membuat saya kuatir malam itu. Tapi saya berdoa, agar hujan tidak turun malam itu.

Para penumpang mobil yang sebelumnya cukup bersemangat untuk bernyanyi bersama, nampaknya mulai kelelahan dan mulai tertidur. Saya beberapa kali terjaga, melirik kang Dadang (loh, kok?) untuk melihat apakah dia baik-baik saja atau mengantuk. Setelah memasuki tol Cipularang, hujan sempat turun, walau tidak terlalu deras dan tidak terlalu lama. Sekitar pukul 12.15 dini hari, mobil kami tiba di gerbang tol Pasteur. Rp. 37.000. Naik Rp. 2.500 dari RP. 34.500, terakhir kali saya ke Bandung Januari 2008 lalu. Teman-teman pun terbangun.

Jadi itulah Bandung tengah malam. Indah dengan sejuta lampu di bukit-bukitnya, serta udara dingin yang menyapa lembut. Ah, tiba-tiba saya merindukan seseorang yang sebelumnya dikabarkan akan ikut mengambil bagian dalam paparan tetapi tiba-tiba tidak jadi karena kesibukan pekerjaannya. Ah kecewanya.. Setibanya malam itu di Bandung, saya masih sedikit berharap, paling tidak, walaupun dia tidak ikut bernyanyi, dia datang untuk menyaksikan paparan tersebut. Toh dia tinggal di Bandung.. dan tempat kerjanya tak terlalu jauh dari Saung Angklung Udjo di Jl. Padasuka..

Seperti yang barusan saya tulis, itulah Bandung di waktu malam. Entah kenapa, rasa kagum saya terhadap kota Bandung dan Pulau Bali tidak ada habis-habisnya. Saya selalu ingin ada di sana.. Hm.. walau kadang Jakarta di waktu malam pun sebenarnya tidak kalah indahnya dibanding Bandung dan Bali.

Kami menyusuri jalanan yang melengang tengah malam itu. Menaiki fly over Pasopati (apa iya ya?) lalu menuju Jl. Padasuka. Kami melambat meminggir ke sebelah kanan, berbelok menghadap sebuah gerbang tertutup yang terbuat dari bambu. Sebuah spanduk besar tentang acara Paparan Musikal sudah terpampang di depan gerbang. Gerbang pun dibuka dan mobil kami masuk. Sambil mencari-cari letak guest house tempat kami menginap, kami melihat-lihat sekitar. Tempat yang cukup luas dengan pepohonan rindang dan bambu-bambu yang menaunginya. Kami turun di depan sebuah gues house yang lampu berandanya menyala temaram. Di berandanya duduklah Kk Bonita, Mas Adoy, Om Kris, Kk Sylvie, Mba Nelden, Om Barata, dan Ape. Sementara ketika pintu mobil dibuka, kami disambut oleh Agus (Bhotax) dan Mas Do. Tak lama setelah itu mas Ibut muncul. Kami semua lalu berhamburan keluar dari mobil, bersalaman, dan berpelukan. Udara dingin yang mulai menyapa seperti menghangat oleh tawa dan senyuman kami. Guest house yang kami singgahi itu yang kemudian dipakai oleh Mas Adoy, Kk Boni, Adik Pram, Mba Nelden, Yogi, Sasha, Ombus, Fara, Wiwit, dan Imada. Sementara Mas Do, Om Barata, Om Kris, Kk Sylvie, Mas Ibut, Anyi, Ape, Bhotax, Mba Detta, Gabi, dan saya menempati guest house yang lainnya, yang tepat berada setelah gerbang masuk tadi.

Setelah berjalan berjinjit sambil menahan nafas melihat Adik Pram yang sudah tertidur tenang dan pulas di atas kasur, kami menuju guesthouse di depan sambil membawa barang-barang kami. Guest house ini seperti sebuah rumah panggung yang bertingkat 2. Ada 2 kamar tidur di lantai bawah, dan 1 kamar lagi di lantai atas. Di lantai bawah juga ada ruang tamu yang juga bisa digunakan untuk tidur, serta sebuah ruang kecil dengan meja makannya. Di lantai atas pun ada sebuah ruang tamu kecil di depan kamar yang juga bisa dipakai sebagai tempat tidur. Di lantai bawah ada 2 kamar mandi yang dirancang sedemikian rupa sehingga bernuansa alami, dengan tambahan potongan-potongan bambu sebagai pintu, ujung shower, dan alas kaki di bawah pancuran, serta tentunya, air panas yang senantiasa menemani, 24 jam non stop.

Mba Detta, Gabi, dan saya menempati 1 kamar di bawah. Sebagian bangunan ini dibangun dengan tembok (semen) dan beberapa bagian lainnya terbuat dari anyaman bambu. Lantainya terbuat dari papan kayu. Tangga kayu di depan pintu menjadi tempat yang menyenangkan untuk duduk-duduk bersama sambil berbincang atau sekedar merokok menghalau udara dingin. Tapi malam itu sudah terlalu larut sehingga teman-teman memilih untuk berbaring meringkuk di bawah selimut, beristirahat, mengingat bahwa dalam beberapa jam ke depan mereka akan tampil dengan kurang lebih 2 lusin lagu. Gabi dan saya sedikit penasaran seperti apa tempat manggungnya, jadi kami berdua berjalan menuju Balai Karasemen. Bentuknya bisa dibilang seperti amphitheatre, mirip dengan Selasar Sunaryo. Hanya saja lebih luas dan posisi panggungnya lebih ke tengah. Beberapa orang terlihat sedang membereskan alat-alat dan sound system, entah baru selesai dipakai malam jumat itu atau untuk keperluan paparan.

Kami pun kembali ke kamar. Mencuci muka dan kaki, mengganti celana tidur. Bantal dan kasur kami kibaskan dari nyamuk-nyamuk yang sudah pingsan atau mungkin mati, ketika tiba-tiba lemari baju di dalam kamar terbuka sendiri. Gabi dan saya sempat saling berpandangan lalu kemudian berhamburan ke luar kamar, namun masuk lagi sambil menyapa, “Permisi…”. Kami berdoa memohon perlindungan sebelum tidur, agar diberikan istirahat yang cukup. Kami menyetel alarm di jam dan handphone, jam 07.00 pagi. Belum sempat tertidur, Anyi masuk ke kamar kami dan menawarkan untuk bersama-sama mencari makanan. Lapar. Saat itu sudah sekitar jam 2 kurang. “Paling-paling nasi gorenglah..”.

Dengan pedenya, Gabi dan saya yang sudah bercelana tidur berjalan meninggalkan kamar. Di luar guest house ada Wiwit, Imada, Mas Ibut, dan.. ah, saya lupa. Aneh dan lucu rasanya menyusuri Jl. Padasuka di pagi buta itu. Beberapa kendaraan masih berlalu lalang dan kami berjalan menepi. Tibalah kami di depan gerobak penjual nasi goreng. Di belakangnya ada beberapa orang bapak yang sudah mengantri sebelum kami. Saat akan memesan, si bapak bilang, nasinya hanya cukup untuk 3 porsi lagi, dan itu termasuk untuk bapak-bapak yang sudah antri. Kami pun terpaksa pergi lagi, kembali ke Saung Udjo. Beberapa teman, Anyi, Mas Ibut, Ape, Imada dan Wiwit, (sepertinya)… naik mobil Ape menuruni Jl. Padasuka, sementara Gabi dan saya hanya memesan sebungkus nasi goreng untuk berdua. Kami memilih untuk duduk di bangku kayu yang menempel di dinding luar daripada masuk dan berlalu lalang di ruang tamu sementara Bhotax sudah lelap tertidur di sana. Bangku yang kami duduki itu agak tinggi letaknya sehingga kaki kami bisa diayun-ayunkan sambil kami bernyanyi perlahan. Udara pun semakin dingin dan kami mulai mengantuk, oya, juga kelaparan. Dan nasi goreng pun tak kunjung tiba.

n a s i g o r e n g t a k b e r s e n d o k tiba . . .

Saat itu sekitar pukul 2.35 pagi hari, sesaat sebelum saya sempat mengirimkan pesan singkat kepada Anyi untuk menanyakan keberadaan mereka, sebuah mobil putih memasuki pintu gerbang dan kami berteriak pelan, “Hore..!”. Makanan pun tiba. Anyi dan mas Ibut turun membawa sebungkus nasi goreng. Panas. Kami segera membukanya. Harum. Dengan beberapa lembar kerupuk. Tanpa sendok. Tanpa pikir panjang, setelah mengucap doa, kami pun menyantap nasi goreng itu dengan bersendokkan beberapa lembar kerupuk. Rasanya mungkin tidak luar biasa lezat, tapi karena kami lapar dan kedinginan, rasanya jadi sangat enak. Gabi sempat bertanya, “Tas, kalau kerupuknya habis gimana?”. Saya tidak menjawab, tapi langsung menyuap nasi goreng dengan jari-jari saya. “Makan nasi apa aja gw dah pernah, Tas, pake tangan, kaya’ nasi padang, tapi kalo nasi goreng, wah, ini pertama kali mungkin..”, kata Gabi. Kemudian Gabi menyusul saya. Jadi, itulah pengalaman pertama kami makan nasi goreng jam 3 pagi di Bandung, dengan tangan, bukan dengan sendok. Ada perasaan lucu ingin tertawa terbahak, tapi takut tersedak nasi goreng yang tidak hanya panas, tapi juga pedas itu.

Selesai makan, kami mencuci tangan di dalam, mengambil air mineral gelas, dan masuk ke kamar. Mba Detta ternyata sudah ada di balik selimut. Kami pun mengendap-endap naik ke atas kasur, takut membangunkan. Ternyata mba Detta belum tidur. Lalu kami berbincang tidak keruan, entah membicarakan apa hingga akhirnya saya tiba-tiba berkata, “Tuhan, kasih saya pacar yang baik dong, yang pengertian dan tidak macam-macam.. tidak usah harus besok langsung datang, tapi kalau boleh, jangan terlalu lama juga ya..”. Lalu tiba-tiba Gabi menyahut, “Gabi juga ya, Tuhan..”. Spontan mba Detta tertawa terbahak dan merasa perkataan kami lucu bukan main sampai-sampai tidak bisa berhenti tertawa dan kami kuatir itu akan membangunkan teman-teman yang lain. Akhirnya kami merasa benar-benar lelah, mengantuk, dan harus beristirahat.

mie instan rebus, tahu sumedang, dan cover #1 repackage

Saat alarm jam saya maupun hpnya Gabi berbunyi pukul 07.00 pagi itu, kami sama sekali tidak berkutik dari kasur kami. Baru setelah Anyi masuk ke kamar kami dengan wajah segar sehabis mandi, kami mulai menggeliat dan merenggangkan badan. Pagi itu dibuka dengan gosip-gosip ringan yang kemudian menjadi gosip hangat hingga tak disangka, di malam harinya menjadi kejadian besar yang menghebohkan banyak sekali orang. Gosip ringan tentang seseorang (atau lebih) yang berambisi dan berobsesi sangat besar namun tidak bisa melakukan apa-apa. No action, talk only. Ya, itulah dia (mereka). NATO. Setelah itu orang-orang mulai berdatangan ke guest house kami, termasuk Mas Adoy, Kk Boni, dan Adik Pram. Si Adik Pram itu lucu sekali. Dengan mata besarnya yang jernih dan seakan enggan berkedip itu dia mencermati setiap orang baru yang dilihatnya. Mulutnya ternganga sekan takjub akan banyaknya orang di sekitarnya, hingga Adik Pram pun meneteskan air liurnya. :) Semuanya itu menjadi pemandangan begitu menghibur di pagi hari, membangkitkan semangat untuk mulai beraktivitas. Sementara itu teman-teman yang lain asik berbincang di luar. Beberapa mengepulkan asap rokok dari mulut mereka. Gabi dan saya pun mulai mempersiapkan pekerjaan pemotongan cover kaset #1 repackage. Ada sekitar 24 kaset yang overnya mesti kami potong karena baru dicetak beberapa hari lalu. Tapi Gabi mau mandi pagi dulu. Jadi saya memulai memotong dan mencoba melipatnya seperti yang dicontohkan Mas Ibut tadi malam. Beberapa teman menawarkan untuk memesan mie instan di warung sebelah untuk sarapan pagi. Saya memesan 2 mie rebus, 1 untuk saya dan 1 lagi untuk Gabi. Setelah Gabi selesai mandi, mie rebus panas dan telur pun siap disantap. Kami menikmatinya sambil kembali berkata, “Kenapa ya mie buatan orang itu pasti lebih enak daripada yang kita buat sendiri?”. Anyi pun ikut bergabung disusul Mas Ibut yang tiba-tiba membawa sepiring tahu sumedang yang baru diangkat dari penggorengan. Panas. Harum. Garing. Lezat! Ya! Bagian luar tahunya garing dan bagian dalamnya lembut dan berongga seperti tahu sumedang pada umumnya. Entahlah, rasanya dengan mie rebus itu (plus cabe rawit) seperti perpaduan yang luar biasa nikmat (berlebihan, karena lapar). Setelah selesai sarapan yang sedikit dibumbui sesi gosip lanjutan, kami pun kembali bekerja. Selesai dengan kegiatan memotong dan melipat cover pun saya segera mandi (dengan air panas, tentunya) karena orang-orang mulai membantu mengangkat alat-alat menuju Balai Karasemen untuk kegiatan set alat sekalian cek sound. Gabi dan saya menyusul ke sana setelah kami mengunci semua pintu.

Apa yang saya lihat segera membuat saya merinding. Bukan karena ketakutan atau kedinginan, tapi karena membayangkan betapa akan hebat luar biasanya (tidak berlebihan , loh…) acara nanti malam. Lagu dari MP3 cozy street corner pun diputar sambil Bhotax mulai menyetel drum setnya. Gabi dan saya sempat berjalan-jalan ke bagian lain dari Saung Angklung. Sebuah taman di sebelah Balai Karasemen dengan saung-saung kecil yang dinaungi pohon-pohon dan tanaman bambu. Keren! Kami lalu kembali duduk manis di deretan kursi, memandangi 5 orang yang sedang mondar-mandor memperhatikan susunan alat di panggung. Gabi dan saya, entah kenapa, tidak berhenti berdecak kagum. Lalu beberapa orang datang duduk bergerombol, orang-orang yang kemudian kami kenali sebagai Kurtukoji, anak-anak STISI Bandung yang akan menjadi choir pengiring paparan nanti. Dan pupus sudah harapan saya akan bertemu orang itu, karena dia tidak ada di antara orang-orang tersebut, ditambah sebuah pesan singkat dari dia yang mengatakan dia tak akan sempat datang karena banyaknya tugas yang harus segera diselesaikan. Hhhh.. tapi ya sudahlah, saya kembali teringat tujuan utama saya ke Bandung adalah untuk bersenang-senang mengikuti Paparan Musikal. Ada atau tidak adanya orang itu hanya akan menjadi bonus atau tambahan saja. Mestinya tidak mempengaruhi kesenangan saya. Mestinya.

Tak terasa waktu sudah pukul 12 siang. Merasa lapar, Gabi dan saya membeli es krim yang dijual di toko cinderamata. Walaupun sebenarnya saya sedang flu, saya tetap ingin memakannya. Lalu kami melihat kk Sylvie mulai mengangkat makanan-makanan kotak yang akan dibagikan kepada pendukung acara yang ada di sekitar Balai Karasemen. Kami pun membantu. Setelah itu kami kembali ke guest house untuk makan. Nasi timbel (yang pastinya dibungkus daun pisang), sepotong ayam goreng, tahu, tempe, dan sepotong kecil ikan jambal goreng (yang pastinya asinlah..), dan sayur lalap beserta sambelnya. Kami lapar dan rasanya enak. Selesai makan saya memesan es teh manis di warung sebelah. Lalu Gabi dan saya membantu Anyi menghitung tiket undangan dan tiket pesanan. Selepas itu kami menuju Balai Karasemen, menyaksikan sebuah band yang sedang melakukan sound check, ya, Cozy Street Corner. Entah itu termasuk gladi bersih atau tidak karena memang agak singkat mengingat pukul 4 sore Balai Karasemen harus bersih karena akan digunakan untuk pertunjukan rutin tiap sore. Alat-alat harus diungsikan terlebih dahulu. Setelah itu kami semua kembali ke guest house. Kali ini hampir semua orang berkumpul di guest house kami. Ada yang duduk-duduk di tangga luar, di bawah pohon, di bangku kayu yang menempel di dinding luar, dan di dalam guest house. Sementara Gabi dan saya memilih duduk di bangku kayu tempat kami makan nasi goreng tadi subuh. Menyaksikan Om Kris, Mas Adoy, Mas Do, Om Barata, dan Bhotax duduk di bawah pohon sambil tertawa dan berbincang-bincang. Sesekali mereka terlihat membicarakan tentang lagu yang akan mereka mainkan. Setelah mas Adoy meminta Gabi membelikan the botol, mas Do memesan es kelapa muda yang kemudian membuat kami tergiur. Gabi dan saya pun ikut-ikutan memesan. Segar. Enak. Padahal es kelapa muda selayaknya minuman yang diminum di tepi pantai di kala hari panas, tapi tak ada juga yang melarang meminum es kelapa muda di Bandung yang dingin ini. Jadi kami meminumnya. Kami cukup lama duduk di sana sambil menantikan pukul 3.30, waktunya untuk briefing acara. Jam 4 pun tiba dan kami masih santai-santai duduk di sana. Setelah itu barulah kami masuk ke dalam guest house untuk bersiap-siap. Anyi, Mas Ibut, dan Mas Moeloes memberikan penjelasan singkat tentang posisi ticket box, meja penjualan kaset dan pin, serta posisi yang akan menyobek tiket dan memberikan buku tamu. Gabi masih sempat pergi mandi, sementara saya hanya mencuci muka dan berganti baju, lalu menyusul Anyi menuju ticket box.

t h e s h o w t i m e . . .

Kami sempat membagikan beberapa flyer acara paparan kepada pengunjung yang baru saja selesai menyaksikan pertunjukan rutin angklung. Akhirnya Gabi yang menjaga meja penjualan kaset ditempatkan tepat di ujung toko cinderamata yang berbatasan dengan tangga menuju Balai Karasemen. Sementara Anyi dan Endang menjaga ticket box serta Mba Nani (istri mas Moeloes yang tengah mengandung 4,5 bulan) memeriksa tiket masuk dan membagikan buku tamu.

Baru sekitar pukul 7 malam orang ramai berdatangan. Banyak juga ternyata yang baru membeli tiket malam itu di samping orang-orang yang sudah sebelumnya memesan tau membelinya dari commonroom yang menjadi tempat penjualan tiket early bird, serta orang-orang dengan tiket undangan dan teman-teman dari media. Pertunjukan yang sedianya dimulai pukul 6.30 sore dengan pemutaran film Turtle Berau itu agak sedikit molor, dan Balai Karasemen perlahan mulai penuh. Sekitar pukul 7.30 Cozy Street Corner mulai beraksi. Belum pernah saya menyaksikan mereka tampil sambil berdiri (hampir selalu dengan duduk di kursi). Tapi malam itu mereka terlihat begitu lain dan k.e.r.e.n. Entah saya yang norak atau memang pemandangannya begitu. Mereka keren. Potongan tiket yang kami kumpulkan mulai kami hitung jumlahnya. Hingga akhir acara terkumpul sebanyak 160 potongan tiket. Sementara orang-orang tanpa tiket yang masuk, seperti media dan undangan dari Saung Angklung Udjo dan panitia yang kemudian melengkapi angka kurang lebih 250 penonton malam itu.

Memang, Anyi, Endang, Mba Nani, saya, kk Sylvie, Gabi dan beberapa panitia lain mungkin tidak bisa mengikuti acara dari awal karena ada tugas yang harus kami kerjakan. Tapi karena acara pun agak sedikit molor, kami pun ternyata tidak ketinggalan terlalu banyak. Kami selesai bertugas dan bisa duduk di deretan penonton mendengarkan lagu ke 11 di sesi kedua. Masih ada sekitar 11 lagu lagi yang bisa kami nikmati sampai puas. Dan memang, kami puas. Kami bernyanyi bersama, tertawa, dan berjoget. Beberapa teman yang datang dari Jakarta juga ikut bersama-sama dengan kami bernyanyi dan bergoyang. Bahkan pada lagu Dendang Bersahutan yang disambung dengan lagu Kira Di Dada, saya yakin, tak hanya kami yang tidak mampu menahan untuk bergoyang, tapi seisi Balai Karasemen pun ingin bergoyang, hanya saja mungkin beberapa tidak segila kami. Hehehe.

Tidak terasa, sampai juga di lagu Farewell So Long yang diikuti lagu Mari Pulang, lagu yang kemudian mengakhiri Paparan Musikal Cozy Street Corner malam itu. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.15 malam. Lewat sekitar 15 menit dari waktu yang diberikan oleh pihak Saung Udjo untuk menyelenggarakan acara malam itu. Tapi tak menjadi masalah. Orang-orang yang mulai beranjak berdiri, berjalan pulang dengan wajah berseri. Puas dengan suguhan yang baru saja mereka nikmati. Beberapa sempat mampir untuk membeli kaset, cd, atau beberapa pin. 6 buah CD #3.3 from the corner yang kami bawa, habis terjual.

Betapa puas dan senangnya kami malam itu. Tidak hanya para pendukung acara, tapi juga Cozy Street Corner sendiri, walau sebenarnya masih ada satu hal tersisa yang harus diselesaikan malam itu. Sebuah masalah besar yang sempat membuat hati panas. Tapi entahlah bagaimana caranya, sehingga masalah tersebut bisa diselesaikan dengan orang yang bersangkutan tanpa seorang pun yang terluka. Tidak. Tidak ada kekerasan fisik yang terjadi. Hanya ketajaman dan ketegasan kata-kata, yang mungkin bisa dibilang menjadi evaluasi bagi orang-orang yang mengambil bagian dalam persiapan paparan kali ini.

Semuanya sudah selesai. Semuanya senang. Puas. Kami pun membantu membawa barang-barang dan alat-alat dari Balai Karasemen dan menyimpannya di guest house. Di sana sudah berkumpul banyak teman-teman dan para pendukung acara. Ucapan selamat, jabat tangan, dan rangkulan hangat berdatangan dari mana-mana untuk siapa-siapa, terutama untuk Cozy Street Corner yang tampil sempurna malam itu.

Badan yang lelah dan perut yang sebenarnya sudah lumayan lapar seperti terlupakan sejenak oleh momen istimewa yang kami saksikan malam itu. Keramahan dan rasa kekeluargaan di antara kami semua membuat saya kembali memikirkan perbincangan Anyi dan saya beberapa hari lalu lewat telepon. Kami berbicara tentang mengapa orang ingin selalu kembali menyaksikan Cozy Street Corner tanpa ada rasa bosan atau muak. Paling tidak alasan mengapa kami, Anyi dan saya, dan teman-teman yang lain, tetap setia menyaksikan mereka. Bahkan sampai kami hafal hampir semua lirik lagu-lagu mereka. Anyi sempat berkata, gw yakin, bahwa 1 atau 2 hari setelah lo nonton paparan, lo akan kembali teringat dan berkata gila, 2 hari yang lalu gw baru nonton paparan, dan gw yakin itu masih akan terus diputar dalam pikiran lo di hari-hari seterusnya.. (maaf Nyi, ga sama persis dengan yang lo ucapin, tapi intinya gitu kan?). Dan walau baru sekitar 1 jam berlalu, ketika Gabi, Endang, dan saya berbaring sejenak di kamar kami, saya memikirkannya. Saya baru saja menyaksikan semuanya itu!

Sebenarnya ada sedikit penyesalan karena saya tidak bisa merekam atau mengabadikan momen itu dengan handycam atau digital camera seperti yang saya lakukan pada saat paparan bulan november lalu di Goethe Haus Menteng. Tapi malam itu juga saya merasa ingin sekali sekedar menikmati tanpa sibuk mencari posisi yang tepat untuk merekam atau mencari setingan lighting agar gambar yang saya rekam tidak gelap. Saya yakin, gambar-gambar yang berhasil diabadikan Mba Detta akan mengobati penyesalan saya, bukan begitu mba Detta?

Malam semakin larut dan teman-teman pun mulai berpamitan. Ketika itu sudah sekitar pukul 11.30 malam dan perut kami mulai terasa lapar. Kami mencari-cari di mana tersedia makanan yang mungkin masih tersisa untuk kami. Tapi ternyata memang tidak ada. Jadi, beberapa teman mengajak untuk mencari nasi goreng (lagi). Om Barata, Ombus, Imada, Wiwit, Mba Nelden, Mas Do, Gabi dan saya pun berjalan menuruni Jl. Padasuka. Kami mencari tukan nasi goreng dan memastika bahwa porsinya kali ini cukup. Kami rencananya akan membungkus nasi goreng tersebut, tapi karena ternyata tersedia bangku di sana, maka akhirnya kami memakan nasi goreng pesanan kami langsung di sana.

Rasanya memang tidak selezat nasi goreng yang Gabi dan saya makan dengan tangan itu, tapi ya sudahlah, kami lapar. Ternyata mas Do tidak ikut memesan nasi goreng dan lebih dahulu kembali ke Saung Angklung. Dalam perjalanan pulang, kami baru tahu kalau ternyata Mas Do sering sakit maag-nya. Gabi mengatakan bahwa susu putih itu cukup manjur untuk mengurangi sakit maag. Ombus tiba-tiba bertanya, apakah susu seperti susu ultra cukup baik, karena dikemas dalam kotak dan mungkin saja mengadung pengawet yang banyak karena biasanya tahan dalam waktu yang lama. Apakah sama sterilnya dengan susu sapi murni. Kami pun membahas bahwa sebelum dikemas, susu kotak sudah melalui proses sterilisasi sehingga tahan untuk waktu lama tanpa menggunakan zat pengawet. Sama halnya dengan susu sapi yang masih di dalam tubuh sapi. Kata Gabi, iya, sama aja dengan susu sapi kan masih diperutnya. Lalu saya spontan mengatakan bahwa susu sapi bukan di perut sapi. Lalu di mana? tanya Ombus. Di dadanya jawab saya polos. Kami lalu terdiam dan membayangkan, memangnya sapi punya dada? Kami pun tertawa geli terbahak, merasa bodoh membahas di mana susu sapi berada.

Setibanya di Saung Udjo, kami kembali ke guest house. Di sana ramai berkumpul banyak orang. Sedang membahas perihal evaluasi mendadak terhadap seorang yang membantu persiapan paparan tersebut. Dengan seru pun kami mendengarkan dan sesekali ikut berkomentar. Malam pun semakin malam dan saya sudah begitu mengantuk. Orang-orang akan menuju guest house satu lagi tempat mereka akan menghabiskan sisa malam yang indah ini. Gabi dan saya memilih untuk merebahkan badan kami di atas kasur. Dan kami pun bersiap untuk tidur.

rangginang and walls magnum classic for breakfast, please..

Minggu pagi kami terbangun karena Anyi kembali membangunkan kami. Rasanya kami semalam baru saja bermimpi indah sekali. Tapi ternyata itu bukan mimpi, karena semalam kami memang benar-benar mengalaminya. Kami pun mulai berdiri dan mengintip ke luar kamar. Rasanya agak enggan untuk segera pulang ke Jakarta.. masih ingin lebih lama lagi menikmati suasana ini..

Saat itu sudah sekitar pukul 8.30 pagi. Kami mulai mencari-cari sarapan, sayangnya warung di sebelah guest house kami ternyata tutup di hari minggu. Untuk menunda sarapan, kami pun memutuskan untuk melihat-lihat hasil jepretan mba Detta semalam. WOW! Bagus-bagus. Keren. Tak puas hanya melihat melalui kameranya, filenya pun dipindahkan ke laptop Mas Do sehingga bisa lebih jelas kami saksikan. Pagi itu ada Mas Adoy, Mas Do, Bhotax, Mas Ibut, Mba Detta, Gabi, dan saya yang duduk asik menonton foto-foto itu. Tiba-tiba saya mengajak Gabi untuk membeli es krim (lagi) di toko cinderamata. Kali ini mas Adoy dan mas Do menitip Walls Magnum Classic. Wah. Saya pun tergiur dan kami membelinya, ditambah sebungkus kerupuk nasi, rangginang (apa rengginang ya?).

Sekembalinya dari sana, kami segera menyantap es krim tersebut. Om Kris pun bergabung dan mencicip. Lalu terlihatlah rangginang itu. Wah, ini adalah salah satu penganan kesukaan gw. Bagi ya? kata Om Kris. Kami pun penasaran dan memakannya. Ternyata enak. Lalu Gabi dan saya pergi lagi untuk membeli 2 bungkus rangginang lagi. Dan pagi itu kami sarapan es krim dan rangginang. Enak.

Siang pun mulai turun dan kami rasa sudah waktunya kami untuk siap-siap dan berkemas, mengingat bahwa kami harus kembali ke Jakarta dan mengembalikan mobil sewaan kami. Kami mandi, membereskan kamar, membuang sampah-sampah dan merapikan kembali guest house yang nyaris seperti kapal pecah itu.

Waktunya pun tiba, sekitar pukul 3 sore, kami memasukkan barang-barang ke mobil dan bersiap pergi meninggalkan Saung Angklung. Setelah sebelumnya berjabat tangan dan berpelukan dengan orang-orang yang tidak akan ikut bersama kami makan siang di Toko You di dekat Dago. Om Kris dan kk Sylvie naik mobil terpisah. Sementara Bhotax dan Ape sepertinya akan langsung ke Jakarta. Kk Boni dan Mas Adoy masih harus menjemput Adik Pram yang semalam dititipkan. Mas Do, Anyi, Mas Ibut, Mba Nelden serta alat-alat ada di mobil kijang. Sementara penumpang Pregio tetap berjumlah 11 orang, walau kali ini Anyi digantikan oleh Om Barata.

Kami pun menuju Toko You untuk bersantap siang di sore itu. Tiba di sana, kami mulai memesan. Cumi goreng saos pedas, kakap tepung goreng saos asam manis, daging sapi cah kailan, cap cay goreng, cap cay kuah, dah nasi putih serta es teh. Enak, pastinya karena memang enak dan kebetulan kami lapar. Oya, di sana juga ada Mas Moeloes dan mba Nani, Mas Doni beserta istri dan anaknya dan beberapa orang lagi.

Hari semakin sore. Setelah Mba Detta, Gabi, dan saya menghabiskan chocolate moose andalan toko you, kami pun kembali berjabat tangan, berpelukan, dan pamit pulang. Kami sempat berfoto di depan gapura toko you. Lalu kami pun naik mobil. Mengarah ke Jakarta.

Falling slowly..

Kami naik ke mobil dan Yogi (yang gimbal, hehe) memutar lagu. Sebuah lagu yang menjadi OST film Once yang dibintangi Glen Hansard dan Marketa Irglova. Ya, Falling Slowly. Serentak kami bernyanyi bersama. Senang sekali rasanya. Tiba-tiba saya teringat akan seseorang yang secara tidak sengaja mengenalkan saya akan film ini, orang yang sama dengan orang yang tidak jadi datang ke paparan semalam. Ah.. entah apa rasanya. Begitu hebohnya kami bernyanyi membuat Kang Dadang sang driver sedikit kebingungan.

Sebelum memasuki tol, kami mengisi bensin. Setelah itu sesi mengisi TTS di koran pun dimulai. Ombus yang membacakan pertanyaan, dan kami semua yang menjawab. Menyenangkan.

Sore itu matahari mulai terbenam. Jalanan tidak terlalu macet, malah cenderung kosong. Semua pun mulai tertidur, kecuali Kang Dadang tentunya. Sekitar pukul 7 kurang, mobil kami tiba di gerbang tol Pondok Gede Timur, tempat di mana saya akan duluan turun untuk pulang. Mobil pun menepi dan saya mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman. Saya berjalan ke pangkalan ojek dan kembali ke rumah.

Home sweet home. Saya berpelukan dengan orang tua saya. Lalu saya bercerita singkat tentang perjalanan saya. Membereskan barang-barang bawaan saya lalu mandi, bersiap-siap untuk beristirahat.

Saya kira Anyi benar 100%, bahwa pengalaman seperti ini adalah sebuah pengalaman langka yang walaupun pada akhirnya menjadi sebuah pengalaman yang sering dilakukan, tidak akan pernah terasa bosan dan akan terus teringat dan terkenang, karena memang layak untuk diingat dan dikenang..

Saya bersyukur atas 3 hari yang indah, di mana saya bisa merasakan menjadi bagian dari sesuatu yang besar dalam hidup saya.. atas teman-teman dan saudara yang ada dalam hidup saya.

Semoga tidak lama lagi, saya akan mengalaminya lagi. :)

covercorporate240807.pdf

Unicef Corporate Greeting Cards Catalogue 2007

Greetings from UNICEF!UNICEF  is  pleased  to  present  the latest collection of UNICEF Corporate
Greetings Cards 2007. Images of cards are attached for your reference.
These  cards  are  exclusively designed by famous artists from all over the
world that will suit your corporate taste and image.

Our  designs are available in all festive seasons; Ied, Christmas, New Year
and Chinese New Year. By using these cards you not only receive outstanding
quality  cards  with  an  excellent  level of service but also the value in
taking part to help Indonesian children.

UNICEF,  the  United  Nations Children’s Fund is dedicated to the survival,
development, protection and well-being of children and women. Proceeds from
the  sales  of greeting cards will support UNICEF programmes of cooperation
in  basic  health  care,  nutrition,  clean  water  supply  and sanitation,
education  and  training,  and  social services for children and mothers in
Indonesia.   UNICEF   relies   entirely  on  voluntary  contributions  from
governments, individuals, and private sector like your company.

For  any  inquiries please feel free to contact us at 570 5816 ext 241, 600
or 333 or just simply fill up the order form as attached and fax it to 571
1215.

Thank you for your kind attention. We look forward to hearing from you.

Warm regards,
Nelly Rosidha A
Sales Agent
UNICEF Indonesia
Tel. (021) 5705816 ext. 241 / 08159848552
E-mail : nrayani@unicef.org

jurnal2.jpg

ada sebuah website cartoon yang menarik

sila kunjungi http://www.markfiore.com

 

beberapa animasi tentang global warming dan climate chage juga ada di sana..

 

http://www.markfiore.com/animation/feeling.html

http://www.markfiore.com/animation/warming.html

  • “Fear not, for I have redeemed you;
    I have called you by name, you are mine.

    For I am the LORD your God,
    the Holy One of Israel, your Savior

    Because you are precious in My eyes,
    and honored, and I love you,
    I give men in return for you,
    peoples in exchange for your life.

    Fear not, for I am with you;
    I will bring your offspring from the east,
    and from the west I will gather you. “

    (Isaiah 43 : 1,3,4,5)

    Glory Hallejujah …!
    Happy Easter..
    GBUs :)

dan pada bukit yang membisu itu darahNya mengalir..

di celah-celah lukaNya yang menganga,

tertunduk dan pelan Dia berkata, “dosamu t’lah Kutebus..”

selamat “good friday”.. (hehe… terdengar agak aneh..)

GBus..